Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dilema Industri Film di Mata Ernest Prakasa: Bisa Hilang dari Bioskop dalam Sehari

Silva Ayu Triani • Sabtu, 8 November 2025 | 01:30 WIB
Ilustrasi penonton menikmati film di bioskop, mencerminkan pentingnya dukungan awal bagi kelangsungan tayang film.
Ilustrasi penonton menikmati film di bioskop, mencerminkan pentingnya dukungan awal bagi kelangsungan tayang film.

RADARTUBAN - Industri film nasional menghadapi sebuah dilema unik.

Yakni tingginya risiko kegagalan komersial yang ditentukan dalam 24 jam pertama tayang, di tengah seruan keras untuk kembali memprioritaskan orisinalitas cerita.

Dinamika pasar yang memaksa film berhadapan dengan fenomena "Dead on Arrival" (mati di saat tiba) ini diungkapkan oleh produser dan sutradara terkemuka, Ernest Prakasa, dalam Underdog Podcast yang tayang di kanal YouTube Fellexandro Ruby, pada Rabu (20/8) .

Seorang produser film harus siap menghadapi kenyataan bahwa produk kreatif mereka yang dibuat dengan waktu bertahun-tahun dan investasi besar dapat menghilang dari peredaran jika tidak mendapat sambutan penonton yang memadai sejak awal.

Menurut Ernest Prakasa, mekanisme ini terjadi karena pihak bioskop, sebagai pemilik lapak, harus memaksimalkan keuntungan ruang studio yang terbatas.

"Film itu kan ketika hari pertama tayang, lu udah tahu ini film bakal jadi atau bakal mati," ujar Ernest Prakasa, menekankan betapa krusialnya dukungan penonton di awal penayangan.

Keputusan bioskop didasarkan pada Occupancy Rate (OR), yaitu rasio penonton terhadap kapasitas studio.

Film dengan OR rendah, terutama di bawah 10 persen, berisiko kehilangan jumlah showtime atau dihilangkan dari jadwal.

Oleh karena itu, dukungan penonton di hari pertama sangat krusial.

Mekanisme pasar yang ketat ini mendorong sang produser untuk mengedepankan kreativitas dan keberanian dalam storytelling.

Di tengah tren para kreator muda yang terlampau silau dengan ambisi menciptakan Intellectual Property (IP), dia justru menyerukan pentingnya fokus pada kualitas cerita yang orisinal.

"Ketika JK Rowling bikin Harry Potter, dia mikir enggak itu akan jadi IP kayak sekarang? Dia hanya mikir to create a good story," katanya, menegaskan bahwa IP besar selalu lahir dari fondasi kisah yang solid, bukan sebaliknya.

Motivasi di balik pendirian rumah produksinya, Imaginari, didasarkan pada tujuan tertinggi seorang seniman dalam meraih kebebasan kreatif (creative freedom).

Baginya, independensi adalah kunci untuk berani bereksperimen dan melahirkan karya otentik, terlepas dari formula pasar yang sedang dominan.

Kebebasan ini diwujudkan melalui film terbarunya, Dark Comedy Tinggal Meninggal, yang disutradarai debutan, Kristo Immanuel.

Film ini berani menerobos genre langka, memperlihatkan komitmen untuk mendukung cerita orisinal dan talent baru, dengan filosofi casting yang mengutamakan kecocokan dan kemampuan akting (skill) di atas popularitas semata.

"Film ini [sebuah film drama-komedi] kita pilih bukan karena eh mendompleng horor, tapi karena memang ini yang paling menarik ketika itu," tegasnya, menjelaskan bahwa keputusan didasarkan murni pada daya tarik naskah.

Inspirasi bagi para sineas lokal untuk berani mengambil risiko kreatif juga dipicu oleh kesuksesan film dengan skala ambisius seperti Jumbo.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penonton Indonesia memiliki rasa bangga nasional yang tinggi dan siap mengapresiasi karya sinema yang menunjukkan progress dan production value besar, memberikan angin segar bagi ekosistem film yang lebih beragam. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sutradara #ernest prakasa #sineas #produser #dilema #film