RADARTUBAN — Pedangdut Inul Daratista kembali menyuarakan kritik pedas terkait penyaluran bantuan bencana di Tapanuli, Sumatra Utara.
Ia menyoroti cara penyaluran sembako menggunakan helikopter yang menurutnya kurang manusiawi dan tidak efektif.
Bantuan Sembako Dijatuhkan dari Helikopter, Warga Kecewa
Dalam unggahan terbarunya di Instagram, Inul membagikan video yang memperlihatkan bantuan beras dijatuhkan dari ketinggian oleh helikopter ke wilayah terdampak banjir.
Akibatnya, sebagian besar bantuan berserakan di tanah dan rusak sebelum sampai ke warga yang membutuhkan.
Seorang warga dalam video tersebut mengeluhkan cara pemberian bantuan yang menurutnya sia-sia.
"Tidak ada manfaatnya. Coba bapak perhatikan," ucapnya.
Inul menegaskan bahwa niat baik menjadi tidak berarti jika cara pelaksanaannya tidak sesuai.
"Nurani yang bersih, akan memiliki empati dari hati paling dalam. Tapi jika nalurinya sudah mati, semua jadi tak ada arti apapun, meski sumbangsih sebesar gunung seluas lautan, semua menghitam kan pahala! ya Allah …. karepe piye toh iki," tulis Inul.
Warganet Sepakati Kritikan Inul
Unggahan Inul mendapat respons luas dari warganet. Banyak yang setuju bahwa cara penyaluran bantuan seperti itu kurang etis dan seharusnya ada alternatif yang lebih manusiawi, misalnya menggunakan jala, tali, atau jaring untuk menurunkan sembako secara aman.
Selain itu, warganet menekankan bahwa helikopter seharusnya bisa mendarat sebentar untuk memastikan bantuan diterima dengan tepat, meskipun akses darat terputus total.
Akses Terbatas Bukan Alasan Mengabaikan Empati
Meski helikopter menjadi satu-satunya sarana untuk menjangkau daerah yang terisolasi akibat banjir, Inul menegaskan bahwa niat baik tidak cukup jika tidak disertai tindakan yang manusiawi.
Penyaluran bantuan yang salah bisa membuat upaya mulia menjadi percuma, dan berdampak pada moral serta kesejahteraan warga yang terdampak bencana.
Kritik Inul Daratista ini menjadi pengingat bagi semua pihak terkait bahwa bantuan kemanusiaan harus disalurkan dengan hati-hati, penuh empati, dan tepat sasaran, terutama di tengah kondisi darurat seperti banjir di Tapanuli. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni