RADARTUBAN-Aktris, aktivis, sekaligus social-preneur Cinta Laura Kiehl secara terbuka mengungkap perjalanan panjang pendewasaan dirinya yang penuh luka, refleksi, dan transformasi.
Dalam wawancara mendalam bersama Rory Asyari di kanal YouTube miliknya, Cinta Laura berbicara lugas tentang pengalaman pahit sebagai korban perundungan, pergulatan melawan rasa insecure, hingga titik balik yang membawanya pada kesadaran hidup yang lebih bermakna.
Cinta Laura mengawali ceritanya dengan mengenang masa remaja yang tidak mudah. Ia mengaku kerap menjadi sasaran hujatan publik, baik terkait cara berbicaranya, latar belakangnya, hingga penampilan fisik.
Ia menerima label negatif seperti “anak bodoh”, “sok Inggris”, hingga “sok bule”, yang perlahan menggerus kepercayaan dirinya.
“Mereka benar-benar meruntuhkan saya secara emosional dan membuat saya membenci diri sendiri,” ujar Cinta Laura dengan jujur.
Ia mengakui bahwa tekanan tersebut sempat membuatnya rapuh dan mempertanyakan nilai dirinya sendiri.
Namun, alih-alih terjebak dalam rasa putus asa, Cinta memilih jalan berbeda. Ia mengubah kemarahan dan energi negatif menjadi bahan bakar untuk membuktikan kemampuannya.
“Saya memilih bekerja dua kali lebih keras,” tegasnya. Ketekunan itu membuahkan hasil ketika ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Columbia University, New York, dengan dua gelar sekaligus (double major) dan predikat cumlaude hanya dalam waktu tiga tahun.
Meski demikian, Cinta Laura menyoroti perubahan sikap publik yang menurutnya mencerminkan standar penilaian yang dangkal.
Ia menyaksikan bagaimana orang-orang yang dahulu meremehkannya tiba-tiba berbalik memuji setelah melihat pencapaiannya.
“Dari situ saya belajar, dalam kondisi paling sulit, satu-satunya orang yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri,” jelasnya.
Lebih jauh, Cinta Laura menegaskan bahwa kedewasaan tidak melulu tentang pencapaian akademik atau popularitas. Ia mengaku mulai merasa dewasa ketika menyadari bahwa hidup tidak bisa sepenuhnya dikontrol.
“Tidak semua hal bisa kita prediksi. Sekeras apa pun kita mengejar sesuatu, kalau itu bukan untuk kita, ya tidak akan jadi milik kita,” tegasnya.
Setelah lulus kuliah, Cinta sempat menetap di Los Angeles selama empat tahun. Ia mengakui bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri untuk menjauh dari rasa marah dan luka batin.
Pada fase usia 20 hingga 24 tahun, ia belajar satu hal penting: memaafkan.
“Memaafkan bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri, supaya pikiran kita lebih tenang dan jernih,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemarahan yang dipelihara justru menjadi beban yang menghambat pertumbuhan diri.
Kini, fokus hidup Cinta Laura telah bergeser. Dengan segala privilese yang dimilikinya, ia memilih menggunakan platform dan suaranya untuk memperjuangkan keadilan sosial, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.
Ia menyoroti masih rendahnya kecerdasan emosional di masyarakat, termasuk dalam menyikapi kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Banyak korban terjebak karena merasa tidak punya pilihan, atau karena anak. Ini siklus berbahaya yang harus diputus,” tegasnya.
Ia juga menolak konsep “wanita ideal” yang menurutnya hanya mengekang perempuan dalam kotak ekspektasi sosial.
“Perempuan seharusnya punya kebebasan penuh untuk menentukan hidupnya sendiri,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Cinta Laura menekankan pentingnya boundaries atau batasan diri, bahkan terhadap keluarga dan lingkungan terdekat.
“Lebih baik kita punya quality time yang sehat, daripada terus menuruti semua permintaan tapi diri kita sendiri menderita,” ujarnya tegas.
Merangkum seluruh pengalamannya, Cinta Laura mendefinisikan kedewasaan sebagai kemampuan melepaskan ekspektasi, menerima kekurangan diri, serta berhenti menghakimi diri sendiri maupun orang lain.
“Dari situ, ketenangan dan kebahagiaan bisa tumbuh,” tutupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni