RADARTUBAN – Isyana Sarasvati membagikan kisah mendalam mengenai perjalanan kreatif, spiritual, hingga strategi bisnis di balik album terbarunya, Eklektiko.
Dalam wawancara eksklusif bersama Abdel Achrian di kanal YouTube miliknya, Isyana berbicara terbuka tentang makna nama, pendidikan musik, konsep album bertahap, hingga proses pemulihan diri setelah melewati periode hidup yang penuh cobaan.
Isyana mengawali perbincangan dengan menjelaskan filosofi di balik namanya yang sarat makna.
Ia mengungkapkan bahwa nama “Isyana” diambil dari nama sebuah dinasti, sementara “Sarasvati” merujuk pada Dewi Kesenian dan Pendidikan.
Menurutnya, nama tersebut bukan sekadar identitas, melainkan doa yang mengiringi perjalanan hidupnya.
“Nama adalah doa sepertinya. Jadi ini adalah sebuah dinasti yang nyeni,” ujar Isyana.
Sejak kecil, Isyana telah terpapar dunia musik secara serius. Ia menghabiskan masa taman kanak-kanak di Belgia saat ayahnya menempuh pendidikan doktoral.
Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada musik klasik sejak usia dini. Pendidikan musik formalnya pun terbilang panjang dan intens, mulai dari Electone, piano, flute, saksofon, biola, hingga menempuh pendidikan tinggi di bidang musik.
Isyana meraih gelar Bachelor of Music dengan fokus vokal opera di Singapura dan Inggris.
Menanggapi relevansi pendidikan formal musik di era digital saat ini, Isyana menyampaikan pandangan yang realistis.
Ia menilai bahwa menjadi musisi tidak selalu harus melalui jalur akademik, namun pendidikan teori tetap penting bagi mereka yang ingin memahami musik secara mendalam atau membangun institusi pendidikan.
“Kalau sekarang pengin jadi pelaku musik, bisa-bisa saja tanpa sekolah. Tapi kalau mau benar-benar mendalami atau membangun sekolah musik, teori itu penting,” jelasnya.
Dalam wawancara tersebut, Isyana juga memaparkan konsep album kelimanya, Eklektiko, yang dirancang sebagai proyek jangka panjang dan dirilis secara bertahap dalam empat babak atau chapter selama satu tahun, mulai Mei 2025 hingga Mei 2026.
Strategi ini dipilih untuk mengakomodasi keragaman genre yang menjadi ciri khasnya, mulai dari pop, klasik, progressive rock, hingga metal.
“Semua keberagaman ini membentuk Isyana. Makanya di album Eklektiko aku dibagi jadi empat chapter biar orang itu enggak terkejut,” ujarnya.
Empat chapter tersebut terdiri dari Lunora yang berfokus pada kolaborasi, Mamiu yang merepresentasikan inner child dengan nuansa playful, Cecilia yang menggambarkan sisi feminin, bijaksana, dan spiritual, serta Abadi yang menonjolkan eksplorasi progressive rock dan baroque metal.
Di bawah chapter Cecilia, Isyana menghadirkan lagu “I’m on My Way” yang memiliki makna personal dan terapeutik.
Lagu tersebut menjadi medium dialog batin antara dirinya dengan Sang Pencipta, sekaligus refleksi atas proses penyembuhan setelah melewati tahun 2023 yang penuh ujian, termasuk duka kehilangan calon buah hati.
“Aku bisa kembali berdialog lagi, kembali mencintai, kembali hidup, karena sudah berproses dan lebih ikhlas,” ungkapnya dengan jujur.
Tak hanya berkarya sebagai musisi, Isyana juga kini memimpin label musik independennya sendiri, Redrose Records. Label tersebut berfokus pada musisi yang mengedepankan originalitas dan kejujuran artistik.
Di sisi personal, Isyana turut membagikan kisah unik tentang “Bahasa Piyu”, bahasa rahasia yang ia ciptakan bersama sang suami sebagai bentuk keintiman dalam komunikasi sehari-hari, di mana kata “Piyu” berarti “banget” atau “sangat”.
Ia juga menyinggung band pengiringnya yang dinamai Isyana and The Tuttis, sebagai penghormatan terhadap para musisi yang setia mendampingi dan mampu mengeksekusi komposisi musiknya yang semakin kompleks.
Melalui Eklektiko, Isyana Sarasvati tidak hanya menghadirkan karya musik, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang identitas, kedewasaan, dan perjalanan spiritual yang membentuk dirinya hari ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni