RADARTUBAN – Influencer Fujianti Utami Putri, atau yang akrab disapa Fuji, secara terbuka membagikan sisi paling personal dalam perjalanan hidupnya.
Dalam sebuah perbincangan bersama Raditya Dika di kanal YouTube milik sang komedian, Fuji mengungkap perjuangannya menghadapi masalah kesehatan mental.
Diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), hingga trauma mendalam akibat pengkhianatan orang-orang terdekat yang sempat membuatnya ingin meninggalkan dunia hiburan.
Pengakuan tersebut disampaikan Fuji dalam video berjudul “Fuji Mau Podcast Lagi”.
Dia mengakui bahwa tekanan yang datang bersamaan dari sorotan publik, komentar negatif, serta persoalan pribadi membuat kondisi mentalnya berada di titik terendah.
Fuji menyebut tahun 2022 sebagai fase paling berat dalam hidupnya.
Pada periode tersebut, artis muda yang sedang naik itu itu merasa kewalahan menghadapi ekspektasi publik yang terus meningkat, sementara secara personal ia tengah berjuang memulihkan diri dari berbagai luka emosional.
“Saya sempat minta bantuan profesional. Psikiater pernah, psikolog pernah,” ujar Fuji dalam perbincangan tersebut.
Dari proses pendampingan tersebut, Fuji akhirnya didiagnosis mengidap ADHD.
Diagnosis ini menjadi jawaban atas berbagai kesulitan yang selama ini ia alami.
Mulai dari gangguan fokus, kesulitan mengelola emosi, hingga kebiasaan mudah lupa meletakkan barang.
Dia mengaku sebelumnya tidak memahami bahwa pola perilaku tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan mental.
Fuji juga menyinggung pengaruh gaya hidup terhadap kondisinya.
Dia menyadari bahwa kebiasaannya mengonsumsi makanan dan minuman manis, terutama cokelat dan minuman bergula, justru memperparah gejala ADHD yang dialaminya.
“Yang paling parah itu minuman manis. Gula bikin aku jadi kurang tidur, energinya harus dihabisin dulu. Akhirnya pola hidup nggak sehat, stres sendiri, depresi sendiri, dan makin nggak fokus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fuji mengungkap bahwa secara emosional dirinya merasa “nyangkut” di usia 19 tahun.
Usia tersebut menjadi fase yang sangat membekas karena menghadirkan kebahagiaan sekaligus duka mendalam.
Pada masa itu, dia mengalami lonjakan perhatian publik, namun juga harus kehilangan sosok abang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Selain persoalan kesehatan mental, Fuji juga secara terbuka membahas trauma akibat pengkhianatan.
Dia mengaku kepercayaannya terhadap orang-orang terdekat runtuh setelah menjadi korban penipuan.
Salah satu kejadian paling menyakitkan melibatkan mantan manajernya yang bekerja sama dengan pihak lain, termasuk pemalsuan bukti transfer.
“Aku sempat mikir, udahlah apa pensiun aja capek banget dirusak kepercayaan,” kata Fuji.
Rangkaian peristiwa tersebut membuatnya mengalami trust issue yang cukup berat.
Dia juga mengaku kecewa terhadap beberapa teman dekat yang dinilainya tidak memberikan perlindungan maupun dukungan di saat dia paling membutuhkan.
“Aku cuma minta jangan dijahatin aja,” ujarnya, menegaskan bahwa standar paling dasar dalam menjalin hubungan adalah tidak disakiti.
Di sisi lain, Fuji menyoroti tekanan yang harus ia hadapi sebagai figur yang selalu berada di bawah sorotan.
Dia mengaku sempat enggan tampil di podcast maupun acara televisi karena khawatir ucapannya disalahartikan atau dipelintir.
Dia bahkan pernah merasa tidak nyaman ketika direkam secara diam-diam oleh orang asing di ruang publik dalam waktu yang cukup lama.
Meski demikian, Fuji menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendukung setianya.
Dia kini menyarankan agar komentar kebencian dihadapi dengan respons ringan dan lucu, bukan dengan kemarahan.
Untuk menjaga kesehatan mentalnya, Fuji memilih menyediakan waktu untuk diri sendiri dengan bepergian ke luar negeri, seperti ke Bangkok dan Bali, ketika memiliki waktu libur panjang.
Ke depan, ia berharap dapat menemukan sosok yang benar-benar bisa dipercaya sebagai pegangan hidup, sekaligus mewujudkan keinginannya untuk berkeliling dunia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama