Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Satu Dekade Lebih Mewarnai Musik Indonesia, Begini Cara Personel Naif Menutup Perjalanan 25 Tahun Mereka

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Jumat, 19 Desember 2025 | 03:30 WIB
Foto ketika Band Naif tengah konser.
Foto ketika Band Naif tengah konser.

RADARTUBAN - Dunia musik Tanah Air sempat dikejutkan dengan kabar bubarnya Naif, grup musik legendaris yang telah mewarnai industri musik Indonesia sejak 22 Oktober 1995.

Band yang lahir dari tongkrongan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini akhirnya memutuskan untuk menyudahi perjalanan panjang mereka.

Dalam sebuah sesi bincang-bincang di kanal YouTube Raditya Dika (16/12), mantan vokalis Naif, David Bayu, buka suara secara mendalam mengenai keputusan pahit tersebut.

Menurut David, pembubaran ini bukanlah keputusan impulsif, melainkan hasil dari pertimbangan matang dan proses diskusi yang sangat panjang antar personel.

Keputusan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari dinamika internal, perbedaan visi, serta perubahan prioritas hidup yang makin terasa seiring berjalannya waktu.

Setelah lebih dari seperempat abad bersama, para personel David, Emil, Jarwo, dan Pepeng merasa telah memasuki fase kehidupan yang berbeda.

“Kadang, cara terbaik menjaga sesuatu yang kita cintai adalah tahu kapan harus melepaskannya,” ungkap David.

Alih-alih memaksakan diri untuk terus tampil namun dengan hati yang sudah tidak selaras, mereka memilih untuk menutup buku dengan cara yang terhormat.

Hal ini dilakukan demi menjaga warisan karya-karya besar Naif agar tetap dikenang manis oleh para penggemarnya.

Menariknya, pembubaran ini dilakukan melalui komunikasi yang sangat terbuka dan jujur.

Tidak ada konflik sepihak yang meledak-ledak, setiap anggota diberikan ruang untuk menyampaikan kegelisahan serta harapan mereka.

Secara emosional, keputusan ini tentu berat karena band bukan hanya tempat bekerja, melainkan keluarga kedua dan rumah kreatif yang membentuk identitas mereka. Di sisi karier, pembubaran justru membuka peluang baru.

Para mantan personel kini memiliki ruang lebih luas untuk bereksplorasi, mulai dari proyek solo, menjadi produser, hingga mentor bagi musisi muda.

Keberanian untuk berhenti di waktu yang tepat adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap diri sendiri, rekan kerja, dan para pendengar yang telah tumbuh bersama karya mereka.

Meski Naif sebagai band telah usai, nilai-nilai dan karya ikonik mereka akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah musik Indonesia.

“Perjalanan boleh selesai, tapi nilai dan pelajarannya selalu bisa kita bawa ke babak hidup berikutnya,” tutupnya memotivasi kita semua bahwa sebuah perpisahan tidak selamanya berarti kegagalan, melainkan cara untuk menghargai warisan yang telah tercipta. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#david bayu #jakarta #naif #diskusi #ikj