RADARTUBAN – Musisi Baskara Putra, yang dikenal luas lewat proyek solonya Hindia, mengungkap fase paling reflektif dalam karier bermusiknya melalui mixtape terbaru berjudul Doves, ’25 on Blank Canvas.
Karya ini bukan sekadar rilisan sela, melainkan sebuah proses “pembersihan diri” dari beban mental, ekspektasi publik, serta mitologi lama yang selama ini melekat pada persona Hindia.
Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube The Maple Media pada 30 Oktober 2025, Baskara menjelaskan bahwa Doves merupakan bentuk intermisi jeda yang disengaja sebelum ia melangkah ke album studio ketiganya.
Ia mengaku telah kelelahan membawa narasi gelap dan brooding yang mendominasi karya-karya sebelumnya.
“Gua capek dengan kondisi mental yang terlalu kelam. Manggung tiap minggu terus ngomong soal keinginan bunuh diri itu capek. Rasanya fase itu sudah lewat,” ujar Baskara dengan jujur.
Mixtape ini dikonsepsikan sebagai “kanvas kosong”, tempat ia membersihkan ulang identitas Hindia.
Salah satu hal yang secara tegas ia tinggalkan adalah label “nabi palsu” yang kerap disematkan publik kepadanya.
Menurut Baskara, Doves adalah upaya untuk melepaskan diri dari beban representasi dan tuntutan moral yang tidak realistis.
Proses kreatif tersebut ternyata berdampak langsung pada kehidupan personalnya. Baskara mengaku mulai menjalani hidup yang lebih sadar dan terkendali.
Salah satu perubahan paling signifikan adalah kemampuannya untuk menjalani hari-hari tanpa alkohol.
“Gua bisa sober itu aneh banget. Gua ngelewatin festival tiga hari dan sober. Itu baru kejadian tahun ini, sebelumnya enggak pernah sejak 2017,” ungkapnya.
Secara visual dan struktural, Doves diperkuat oleh simbol-simbol yang konsisten.
Metronom dan mesin tik hadir sebagai metafora jeda waktu penanda bahwa mixtape ini adalah proses “membersihkan piring” sebelum hidangan utama datang.
Dalam beberapa pertunjukan, metronom bahkan dimatikan, melambangkan penghentian sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar.
Elemen personal juga muncul lewat tiga lagu yang terinspirasi dari kucing peliharaannya Mimi, Betty, dan Kids. Dari hewan-hewan tersebut, Baskara belajar tentang kelembutan dan makna unconditional love.
Ia percaya bahwa cara seseorang memperlakukan makhluk yang tak berdaya mencerminkan karakter aslinya.
Struktur mixtape ini pun menerapkan konsep mirroring. Lagu hatedan yang sarat amarah, politis, dan kegelisahan akibat kebencian publik di media sosial, dicerminkan oleh “Love by You” di bagian penutup.
Lagu terakhir ini menampilkan spoken word dari Petra Sihombing, membawa pesan tentang pentingnya berdamai dan mencintai diri sendiri.
Tak hanya personal, Doves juga memuat kritik sosial-politik yang telanjang. Melalui lagu Kamis dan Anak Itu Belum Pulang, Hindia memperkenalkan isu Aksi Kamisan kepada pendengar mudanya.
Penggunaan rekaman suara asli Ibu Sumarsih, ibu korban Tragedi Semanggi, dilakukan agar pesan tersampaikan secara etis dan autentik. Seluruh keuntungan dari kedua lagu tersebut disumbangkan kepada lembaga terkait dan keluarga korban.
Sementara itu, lagu paling personal berjudul Aku Berharap Ini Tak Terjadi Padamu direkam secara one-take dan ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Keputusan ini diambil agar Baskara tidak “bersembunyi” di balik Bahasa Inggris, membuat pengakuannya terasa lebih jujur dan mentah.
Delapan bulan setelah perilisannya, Baskara mengaku merasakan kelegaan yang mendalam.
“Pas selesai ngerjain Doves, rasanya banyak hal buruk yang gua tinggalin. Gua rasa ini menjadi rilisan Hindia yang paling komprehensif,” tutupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni