RADARTUBAN - Aurelie Moeremans tidak senang ketika karakter-karakter dalam novel Broken Strings mulai dikaitkan dengan karakter di dunia hiburan.
Isu ini semakin berkembang karena disebutnya nama Roby Tremonti dan Nikita Willy, serta nama Ello. Aurelie juga merasa perlu meluruskan agar masyarakat tidak salah.
Aurelie Moeremans menyatakan dalam unggahan di media sosialnya bahwa teman-teman dalam novel Broken Strings tidak boleh dikaitkan dengan teman-teman selebriti atau orang-orang nyata di sekitarnya.
Ia khawatir jika hal itu terus berlanjut, dapat menyebabkan kesalahpahaman dan merusak hubungan baiknya dengan sesama artis.
Aurelie Moeremans membuat unggahan di media sosial yang mengungkapkan sesuatu yang sangat penting tentang novel Broken Strings.
Ia ingin karakter dalam cerita tidak diganggu atau dilecehkan oleh publik, terutama jika itu hanya berdasarkan asumsi.
Menurutnya, banyak asumsi yang beredar belum tentu benar, dan jujur ia merasa tidak nyaman membaca komentar-komentar tersebut.
Aurelie Moeremans menegaskan bahwa karakter dalam novel Broken Strings bukanlah cerminan atau gambaran dari selebriti maupun orang lain di dunia nyata.
Ia berharap buku tersebut membawa pesan positif—sebuah perjalanan penyembuhan dari luka dan pengalaman hidup.
Aurelie Moeremans menekankan bahwa inti dari kisah Broken Strings bukanlah untuk mencari siapa sosok di dunia nyata, apalagi untuk menghakimi atau menyerang.
Dia percaya bahwa inti cerita ini adalah perjalanan pribadi tentang pengalaman, luka, dan proses penyembuhan.
Aurelie Moeremans menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika ada artis atau orang yang secara pribadi merasa karakter dalam Broken Strings mirip dengan dirinya.
Namun, ia merasa kurang nyaman ketika warganet mulai mencocok-cocokkan cerita dalam buku tersebut dengan sosok selebriti atau orang nyata. Aurelie percaya bahwa itu dapat menyebabkan kesalahpahaman yang tidak perlu.
Aurelie Moeremans berharap publik tidak menjadikan novel Broken Strings sebagai ajang tebak-tebakan lalu menyerang.
Ia menegaskan, buku itu bukan ditulis untuk menciptakan “target baru” yang bisa dibully, melainkan sebagai cara membuka mata, memberi kesadaran, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah mengalami hal serupa.
Aurelie pun mengajak semua orang menjaga ruang ini tetap ramah, aman, dan penuh empati. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni