Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Membakar Otak dengan Berpikir Kritis, Maudy Ayunda: Pendidikan Bukan Sekadar Hafalan Fakta

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Selasa, 28 April 2026 | 10:05 WIB
Pendidikan dinilai terlalu fokus hafalan, Maudy Ayunda dorong diskusi kritis dan keberanian beropini. (Instagram/Maudy Ayunda)
Pendidikan dinilai terlalu fokus hafalan, Maudy Ayunda dorong diskusi kritis dan keberanian beropini. (Instagram/Maudy Ayunda)

RADARTUBAN – Generasi muda saat ini dinilai tengah menghadapi tantangan besar berupa amnesia historis dan penurunan imunitas kognitif.

Sehingga menuntut adanya pola pikir kritis sebagai kunci menghadapi ketidakpastian masa depan sebagaimana dibahas oleh Maudy Ayunda dan Gita Wirjawan.

Maudy Ayunda menekankan bahwa esensi pendidikan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk mempertanyakan kembali kebenaran umum dan melampaui sekadar hafalan di dalam ruang kelas.

Baca Juga: Maudy Ayunda Soroti Generasi Cemas, Dampak Smartphone pada Anak Kian Mengkhawatirkan

Transformasi Pemikiran di Oxford

Sistem pendidikan ketat di Oxford yang mewajibkan debat argumen dengan profesor telah membentuk Maudy menjadi pribadi yang berani memiliki opini meski harus berbeda dengan pandangan mayoritas.

"Budaya Indonesia itu sulit sekali kan untuk beropini atau mengekspresikan (pendapat), apalagi kalau berbeda sama mayoritas," tutur Maudy saat menjelaskan tantangan dalam mengemukakan sudut pandang pribadi.

Pentingnya Imunitas Kognitif

Gita Wirjawan menyoroti kelemahan pendidikan yang hanya terpaku pada formulasi jawaban kaku tanpa menggali lebih dalam alasan di balik sebuah fakta atau fenomena.

Gita menegaskan pentingnya "membakar otak" untuk melakukan investigasi mandiri terhadap hal-hal yang sudah ada demi kemajuan pola pikir pendidikan di Indonesia.

Melawan Amnesia Historis

Pemahaman sejarah yang mendalam dianggap sebagai fondasi penting agar seseorang mampu melihat konteks yang lebih luas dan tidak mudah terjebak dalam disinformasi saat ini.

Maudy menyarankan agar kurikulum lebih banyak memberikan ruang diskusi argumentatif daripada sekadar menuntut siswa menghafal tanggal atau nama tokoh sejarah.

"Saat kita membuka diri dengan sejarah, kita tuh juga akan lebih kritis dengan apa yang kita miliki sekarang," pungkas Maudy menutup diskusi mengenai pentingnya perspektif waktu dalam berpikir. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kognitif #maudy ayunda #berpikir #pendiddikan