RADARTUBAN – Mendengar lirik "bukan lautan hanya kolam susu, jaring dan jala cukup menghidupimu", mayoritas masyarakat Indonesia dipastikan langsung teringat pada satu nama: Koes Plus.
Grup musik legendaris yang kerap dijuluki sebagai The Beatles-nya Indonesia ini bukan sekadar band biasa, melainkan peletak batu pertama industri musik pop modern di tanah air.
Lahir dari rahim sejarah yang penuh dinamika, karya-karya band legendaris ini tetap mengudara lintas generasi dan menolak tenggelam oleh zaman.
Baca Juga: Andaikan Kau Datang Kembali, Tafsir Religi Koes Plus yang Mengajak Manusia Menghitung Diri
Berawal dari Pesisir Tuban Menuju Ibu Kota
Secara silsilah keluarga, band ini berakar dari pesisir utara Jawa Timur. Bersaudara Koeswoyo—Tonny, Yon, Yok, dan Nomo—merupakan putra asli kelahiran Kabupaten Tuban.
Sang ayah, R. Koeswoyo, yang merupakan pegawai negeri di zaman kolonial, kemudian memboyong keluarga besar mereka untuk menetap di Jakarta. Di ibu kota inilah bakat bermusik mereka mulai ditempa.
Sebelum dikenal sebagai Koes Plus, mereka mengawali karier dengan nama Koes Bersaudara pada era 1960-an.
Namun, badai perubahan datang pada tahun 1968 ketika sang drummer, Nomo Koeswoyo, memilih hengkang demi fokus membangun bisnis.
Enggan bubar, Tonny Koeswoyo sebagai motor utama band mengambil langkah berani dengan merekrut Murry, seorang drummer berbakat di luar lingkaran keluarga.
Masuknya personel baru ini menandai lahirnya nama baru: Koes Plus. Formasi emas yang terdiri dari Tonny (keyboard/gitar), Yon (vokal utama), Yok (bass), dan Murry (drum) inilah yang nantinya mengguncang panggung musik nasional.
Menembus Dinginnya Penjara Glodok
Jalan Koes Plus menuju puncak popularitas tidak dilalui dengan karpet merah. Pada masa pemerintahan Orde Lama, musik bergenre rock n' roll kebarat-baratan dianggap sebagai racun budaya imperialisme atau dikenal dengan istilah musik "ngak-ngik-ngok".
Akibat nekat menyanyikan lagu-lagu The Beatles dalam sebuah acara panggung, Koes Bersaudara sempat dijebloskan ke Penjara Glodok pada tahun 1965 oleh rezim saat itu.
Namun, jeruji besi gagal mengurung kreativitas mereka. Dari balik dinding penjara yang dingin, mereka justru melahirkan lagu-lagu sarat emosi yang melegenda, salah satunya Di Dalam Bui.
Memasuki era Orde Baru, ketegangan politik mereda. Koes Plus keluar dari masa sulit sebagai simbol kebebasan berekspresi dan langsung disambut histeria publik yang haus akan hiburan baru.
Baca Juga: RSUD dr R Koesma Tuban Disorot DPRD, Akreditasi Turun dan Keluhan Meningkat tapi Dibiarkan
Formula Kesederhanaan yang Jenius
Ada alasan kuat mengapa Koes Plus begitu populer dan dicintai jutaan masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Tonny Koeswoyo memiliki kemampuan jenius dalam meramu melodi yang mudah diingat (catchy) dengan lirik yang sangat membumi.
Mereka tidak menggunakan kiasan puitis yang rumit. Koes Plus bernyanyi tentang apa saja yang ada di sekitar mereka: kisah cinta remaja, keindahan alam, hingga rasa nasionalisme yang tulus tanpa terkesan menggurui.
Selain itu, Koes Plus dikenal sebagai pelopor band multi-genre paling produktif dalam sejarah Indonesia.
Mereka tidak hanya merajai genre pop dan rock, tetapi juga merilis album dangdut, keroncong, pop anak-anak, hingga memelopori meledaknya lagu daerah lewat seri album Pop Jawa seperti lagu Tul Jaenak dan Eling-Eling. Strategi ini membuat karya mereka mampu menembus sekat-sekat budaya di seluruh penjuru nusantara.
Meski para personelnya kini telah banyak yang berpulang, legasi yang ditinggalkan Koes Plus tetap abadi.
Mereka telah membuka jalan bagi seluruh generasi band modern di Indonesia, membuktikan bahwa kesederhanaan yang digarap dengan ketulusan mampu melahirkan karya yang tak lekang oleh waktu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama