Disney Dituding Bikin Film untuk TikTok? Kontroversi Trailer Hex Picu Perdebatan Soal Format Vertikal

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:14 WIB
Perbandingan sudut pandang sinematik antara format tayangan lanskap dan komposisi vertikal pada trailer film Hex. (Variety)
Perbandingan sudut pandang sinematik antara format tayangan lanskap dan komposisi vertikal pada trailer film Hex. (Variety)

RADARTUBAN –  Peluncuran trailer resmi untuk film animasi terbaru garapan Disney berjudul Hex mendadak menjadi sorotan hangat di kalangan pencinta sinema dan kreator konten digital.

Sejumlah warganet dan pengamat media menuding Disney secara sengaja merancang compositions visual trailer tersebut agar mudah dipotong menjadi video vertikal format portrait demi kebutuhan pemasaran di platform media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Kirbs, perdebatan ini mengemuka setelah banyak pihak menilai pengambilan gambar pada trailer film Hex cenderung berada tepat di tengah.

Pola komposisi visual tersebut dianggap memudahkan pemotongan aspek rasio gambar lebar menjadi rasio 9:16 tanpa kehilangan objek utama, sehingga memicu kritik keras dari publik yang menuduh Disney memproduksi konten ala TikTok slop.

Baca Juga: Disney Dikabarkan akan Buat Super App Baru untuk Streaming, Belanja, dan Taman Hiburan

Namun, analisis teknis secara mendalam terhadap trailer tersebut menunjukkan bahwa anggapan mengenai film yang dirancang khusus untuk layar ponsel tidak sepenuhnya tepat. 

Fenomena center framing pada bagian awal trailer sejatinya merupakan bagian dari bahasa sinematik untuk membangun suasana naratif, bukan sekadar jalan pintas kompromi teknis untuk media sosial.

Tudingan bahwa trailer film Hex dapat langsung diubah menjadi video vertikal tanpa proses penyuntingan ulang terbantahkan saat membandingkan versi lanskap di YouTube dengan versi vertikal resmi yang diunggah Disney di Instagram dan TikTok.

Proses pengalihan format widescreen ke format portrait membutuhkan serangkaian teknik editing yang rumit, termasuk penggunaan panning kamera buatan, pemotongan adegan tambahan, hingga perubahan alur fokus visual.

Sebagai contoh, adegan yang menampilkan interaksi antar karakter di satu bingkai widescreen harus dipotong menjadi beberapa adegan terpisah pada versi vertikal agar alur cerita tetap dapat dipahami oleh penonton.

Langkah adaptasi ini terlihat dari strategi Disney yang mulai mengeksplorasi format video pendek bergaya TikTok di dalam ekosistem layanannya sendiri.

Pada aplikasi Disney+, telah dihadirkan tab khusus berfitur infinite scroll yang menyajikan cuplikan singkat serta klip fitur dari berbagai acara dan film. Fitur ini dirancang bukan sekadar sebagai promosi, melainkan sebagai penunjang pengalaman pengguna dalam mengonsumsi konten interaktif harian.

Kritik terhadap film Hex sendiri tidak hanya terbatas pada masalah komposisi visual, melainkan juga mencakup diskusi seputar desain karakter, kesamaan alur cerita dengan seri lain yang pernah diproduksi, hingga dinamika industri animasi digital masa kini.

Kontroversi mengenai komposisi visual film Hex mencerminkan sensitivitas penikmat film terhadap perubahan estetika sinematik di era dominasi media sosial.

Meskipun Disney terbukti tidak merancang film bioskopnya khusus untuk layar vertikal ponsel, keterlibatan studio raksasa dalam mengadaptasi materi promosi ke format portrait menegaskan bahwa persaingan memperebutkan atensi publik di platform digital kian memengaruhi cara industri film menyajikan karya mereka kepada penonton. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
hex video vertikal disney film animasi