RADARTUBAN – Pasar malam, yang pernah menjadi primadona rekreasi serta pusat perputaran ekonomi rakyat pada dekade 1990-an, kini berada di titik nadir kehidupan ekonominya.
Wadah hiburan tradisional yang dahulu menyulap lapangan kosong menjadi pusat keramaian megah ini kian redup akibat gempuran modernisasi, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta himpitan biaya operasional yang mencekik.
Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Kendati Demikian, sejarah keemasan pasar malam di era pertengahan hingga akhir abad ke-20 tidak lepas dari terbatasnya pilihan hiburan masyarakat.
Saat akses internet belum merambah dan televisi masih menjadi satu-satunya media arus utama, kedatangan rombongan truk pengangkut komedi putar, kora-kora, serta bianglala selalu disambut antusiasme luar biasa.
Baca Juga: Jika Digelar EO dan Komersil, Kegiatan Hiburan di Taman Abhipraya Tuban Dikenakan Tarif
Pasar malam bukan sekadar tempat berburu pakaian murah atau perabotan rumah tangga, melainkan menjadi monopoli hiburan komunal bagi masyarakat kelas pekerja.
Namun, fondasi industri padat karya dan padat modal ini terus tergerus dari waktu ke waktu.
Lahan-lahan kosong di pusat perkotaan yang dulunya menjadi tempat berlabuh rombongan pasar malam kini telah beralih fungsi menjadi bangunan beton komersial, gedung perkantoran, dan pusat perbelanjaan modern.
Kondisi tersebut memaksa pengelola pasar malam melakukan migrasi atau eksodus besar-besaran menepi menuju wilayah pinggiran hingga ke pelosok pedesaan.
Ketahanan pasar malam juga sangat bergantung pada pengorbanan para pekerja operasionalnya.
Para kru yang bertugas merakit wahana, menjaga loket, hingga mengoperasikan permainan mayoritas merupakan perantau yang hidup secara nomaden dari satu daerah ke daerah lain dengan masa tinggal sekitar dua minggu hingga satu bulan per lokasi.
Selama berada di lokasi pertunjukan, para pekerja umumnya tinggal dalam kondisi darurat. Mereka tidur berlandaskan tikar atau lembaran kardus tipis tepat di bawah struktur besi wahana, memanfaatkan fasilitas sanitasi seadanya, serta bergantung pada cuaca harian untuk memperoleh penghasilan.
Sistem penggajian dalam bisnis ini menggunakan skema bagi hasil dari omset gabungan harian, di mana sekitar 25 persen dari total pendapatan bersih harian dikumpulkan untuk dibagi rata kepada seluruh pekerja.
Akibatnya, faktor cuaca menjadi penentu utama kesejahteraan mereka. Saat cuaca cerah dan pengunjung membludak, seorang pekerja dapat membawa pulang pendapatan harian yang memadai.
Namun, ketika hujan deras melanda hingga menyebabkan arena terendam air dan wahana tidak beroperasi, para pekerja terpaksa bertahan hidup tanpa pemasukan sama sekali selama hari-hari kelumpuhan tersebut.
Pasar malam keliling kini berada di persimpangan jalan sejarah. Industri yang pernah menjadi simbol kehangatan ruang komunal dan nostalgia rekreasi rakyat ini terhimpit oleh perubahan paradigma teknologi, pergeseran gaya hidup digital, serta tekanan biaya operasional yang kian berat.
Tanpa adanya adaptasi model bisnis, inovasi keselamatan, dan penyesuaian nilai tambah bagi masyarakat modern, keberadaan arena pasar malam berisiko perlahan-lahan surut dan menjadi sekadar catatan memori masa lalu dalam perjalanan industri hiburan Tanah Air. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni