RADARTUBAN— Masalah sampah yang menumpuk di berbagai wilayah Indonesia kini mulai menemukan jalan keluar yang nyata.
Gerakan berbasis masyarakat dan inovasi lokal terbukti sanggup menjadi solusi efektif tanpa harus selalu bergantung pada teknologi mahal.
Salah satu aksi nyata yang menarik perhatian publik disorot oleh konten kreator Jerhemy Owen. Dikutip dari unggahan di kanal YouTube miliknya, Owen mengulas keberhasilan fasilitas pengolahan sampah Green Prosa di Banyumas, Jawa Tengah.
Tempat yang digagas oleh pemuda bernama Mas Arky ini menerapkan sistem integrated waste management yang mampu mengolah puluhan ton limbah setiap hari.
Gerakan ini bermula dari keprihatinan Arky pada 2018 lalu. Berkat konsistensinya, usaha ini berkembang pesat hingga dianugerahi penghargaan Astra Satu Indonesia Award pada 2021.
Di awal berdiri, Green Prosa hanya sanggup menampung sampah dari tiga rumah warga. Namun kini, fasilitas tersebut rutin memproses sekitar 50 ton sampah per hari, bahkan membengkak hingga 80 ton saat high season.
Luar biasanya, pemilahan rapi di lokasi membuat sisa sampah akhir (residu) yang terbuang ke TPA cuma tersisa sekitar 5 persen.
Sistem pengolahan di Green Prosa mencakup seluruh alur penanganan, mulai dari pemilahan, daur ulang, pembuatan kompos, hingga pemusnahan residu.
Kehadiran tempat ini juga menghidupkan ekonomi warga sekitar dengan membuka lapangan kerja tanpa membatasi latar belakang pendidikan formal. Perekonomian pekerja lokal di sana bahkan meningkat hingga tiga kali lipat.
Dalam operasional harian, sampah yang masuk langsung disortir. Sampah anorganik seperti jenis plastik monolayer, multilayer, dan botol bekas dipisahkan untuk mendaur ulang.
Sementara plastik campur yang sulit didaur ulang disulap menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar padat alternatif pengganti batu bara untuk industri pabrik semen.
Untuk sampah organik, Arky mengandalkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Maggot BSF menjadi kunci utama pengurai sampah dapur.
Siklus hidup lalat BSF terbilang singkat. Masa larva atau maggot cuma bertahan 14 hari dari total usianya yang berkisar 18 sampai 19 hari.
Meskipun singkat, di fase itulah maggot makan sangat lahap. Dalam kurun waktu 24 jam saja, sekelompok maggot sanggup menyusutkan bobot sampah organik hingga 10 kali lipat.
Fasilitas ini juga tidak mengeluarkan bau busuk. Hal itu karena maggot memiliki senyawa antimicrobial peptides alami yang efektif menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau.
Baca Juga: Kabupaten Tuban Dapat Kucuran Rp 180,5 Miliar untuk Pengelolaan Sampah
Setelah berumur 18 sampai 19 hari, maggot siap dipanen. Maggot dicuci lalu dikeringkan untuk dijual sebagai pakan ternak dan ikan berkualitas tinggi karena mengandung protein hingga 60 persen.
Tak cuma raganya, sisa kotoran maggot (kasgot) juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang kaya nutrisi.
Jerhemy Owen mengatakan bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui inovasi sederhana yang didukung pengelolaan terpadu dan keterlibatan masyarakat.
Pengalaman Green Prosa ini membuktikan bahwa limbah tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan maupun perekonomian warga. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni