RADARTUBAN – Hampir seluruh peradaban manusia di dunia, meski berkembang tanpa saling berhubungan pada masa lalu, memiliki satu kesepakatan yang sama, yakni melarang hubungan sedarah atau inses.
Kesamaan norma ini membuat para peneliti dari berbagai disiplin ilmu berupaya mencari penjelasan mengenai alasan di balik larangan yang berlaku hampir secara universal itu.
Menurut berbagai penelitian modern, persoalan inses tidak dapat dijelaskan hanya dari satu sudut pandang.
Hubungan sedarah memang dikenal sebagai hubungan yang melanggar norma.
Tetapi para pakar memiliki penjelasan yang berbeda sesuai bidang keilmuan masing-masing. Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu diantaranya keliru, melainkan karena setiap disiplin ilmu melihat fenomena ini dari perspektif yang berbeda.
Bahkan, aturan mengenai hubungan sedarah juga tidak selalu sama di setiap negara.
Kajian antropologi menjelaskan , larangan hubungan sedarah diyakini berperan penting dalam membentuk struktur masyarakat.
Antropolog asal Prancis, Claude Lévi-Strauss, melalui Alliance Theory menjelaskan bahwa larangan perkawinan antaranggota keluarga dekat mendorong manusia pada masa lampau untuk mencari pasangan dari luar kelompok atau eksogami.
Kebiasaan tersebut kemudian membangun hubungan antarkelompok, memperluas jaringan kerja sama, hingga mendorong pertukaran budaya.
Meski demikian, sejarah juga mencatat adanya pengecualian.
Beberapa dinasti penguasa, seperti Kerajaan Mesir Kuno, Kekaisaran Inka, hingga Wangsa Habsburg di Eropa, pernah mempraktikkan perkawinan sedarah untuk mempertahankan kekuasaan dan garis keturunan kerajaan.
Dampaknya terlihat pada Charles II dari Spanyol, raja terakhir Wangsa Habsburg, yang mengalami berbagai gangguan kesehatan dan kelainan fisik akibat akumulasi genetik selama beberapa generasi.
Dari sisi genetika, bahaya hubungan sedarah baru dapat dijelaskan secara ilmiah setelah berkembangnya ilmu pewarisan sifat.
Perkawinan antarkerabat dekat meningkatkan risiko homozygosity, yaitu kondisi ketika seorang anak mewarisi dua salinan alel resesif yang sama dari kedua orang tuanya. Akibatnya, peluang munculnya penyakit genetik langka atau cacat bawaan menjadi lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya.
Namun, anggapan bahwa hubungan sedarah selalu menyebabkan satu jenis penyakit tertentu ternyata tidak sepenuhnya benar.
Gangguan yang muncul bergantung pada mutasi gen yang diwariskan dalam masing-masing keluarga, sehingga dampaknya dapat berbeda pada setiap kasus.
Di era modern, pembahasan mengenai inses tidak lagi hanya berfokus pada aspek genetika.
Organisasi kesehatan dunia seperti WHO dan UNICEF menyoroti bahwa sebagian besar kasus inses yang terjadi merupakan bentuk kekerasan seksual di dalam keluarga, bukan hubungan atas dasar persetujuan bersama.
Ketimpangan relasi kuasa membuat pelaku dapat memanfaatkan ketergantungan fisik maupun emosional korban melalui praktik manipulasi atau grooming.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga psikologis. Korban berisiko mengalami trauma berkepanjangan hingga menderita Complex Post-Traumatic Stress Disorder (C-PTSD), kondisi yang dapat memengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang.
Kanal YouTube Kamar Film dalam videonya menyimpulkan, "Hubungan sedarah bukanlah persoalan yang dapat dipahami dari satu sudut pandang saja.
Sejarah memperlihatkan bagaimana berbagai peradaban berusaha membatasinya. Genetika menjelaskan risiko yang menyertainya.
Psikologi mengungkap luka yang dapat bertahan sepanjang hidup, dan hukum terus berkembang untuk memberikan perlindungan yang lebih baik."
Seluruh penjelasan ini mengingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman. Keluarga juga seharusnya menjadi tempat pertama bagi anak untuk memperoleh rasa percaya, perlindungan, dan kasih sayang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni