Bumi Macakal di BSD, Rumah Mandiri yang Tak Bergantung pada Air dan Listrik dari Luar

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:28 WIB
Pendiri Bumi Macakal, Irman, menjelaskan sistem pengelolaan air. (Tangkapan layar youtube DAAI Tv)
Pendiri Bumi Macakal, Irman, menjelaskan sistem pengelolaan air. (Tangkapan layar youtube DAAI Tv)

RADARTUBAN  – Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan biaya hidup di kawasan perkotaan, sebuah hunian di BSD, Tangerang Selatan, menawarkan cara hidup yang berbeda.

Rumah bernama "Bumi Macakal" dirancang  mampu memenuhi kebutuhan air, pangan, energi, hingga mengelola sampah secara mandiri.

Pendiri Bumi Macakal, Irman Yudiana ,  menjelaskan bahwa rumahnya dibangun dengan konsep kemandirian yang mengutamakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.

"Bumi Macakal ini rumah yang dibangun atas konsep kemandirian. Jadi kami mencoba untuk mandiri air, mandiri pangan, mandiri energi, serta mandiri pengelolaan sampah," ujar Irman.

Hunian yang mulai dikembangkan sekitar tahun 2020 itu mengusung konsep co-housing dengan enam unit tiny house yang berdiri di bagian atas lahan.

Sementara area bawah sengaja dipertahankan sebagai ruang hijau yang dipenuhi kebun pangan, kolam penampungan air, hingga area peternakan unggas.

Baca Juga: Pemadaman Listrik di Tuban Sabtu 8 Agustus, Cek Wilayah dan Jadwal Lengkapnya

Salah satu sistem yang diterapkan adalah pengelolaan air. Dimana seluruh air hujan yang jatuh di atap rumah ditampung melalui sistem rainwater harvesting. 

Air tersebut kemudian melewati beberapa tahap penyaringan sebelum disimpan di dalam toren dan kolam cadangan.

Selain, air bekas dari wastafel dan kamar mandi atau grey water juga dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman dan kebutuhan pembilasan toilet.

Berkat sistem tersebut, kebutuhan air bersih dapat dipenuhi secara mandiri sehingga penghuni tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan air dari luar.

Di sektor energi, Bumi Macakal memasang panel surya berkapasitas 5.500 watt yang dipadukan dengan baterai hibrida. Teknologi ini mampu memangkas penggunaan listrik dari jaringan hingga sekitar 50 persen.

Hunian ini juga memanfaatkan pendingin alami tanpa bergantung pada pendingin ruangan (AC).

Yakni dengan membangun  dinding bata berpori yang dikombinasikan dengan tirai air sehingga udara yang masuk terasa lebih sejuk. Pemilihan Desain rumah dibuat terbuka agar sirkulasi udara alami dapat mengalir dengan optimal.

Tak kalah penting, Kemandirian pangan juga  bisa terlihat dari  Berbagai tanaman pangan seperti ginseng Jawa, kemangi, rosella, dan pepaya Jepang yang ditanam menggunakan sistem permakultur.

Kebun tersebut terintegrasi dengan budi daya Azolla sebagai pakan ternak alami, serta peternakan ayam dan angsa yang menjadi sumber protein .

Kemudian untuk  pengelolaan sampahnya  dilakukan dengan prinsip zero waste. Sampah anorganik dipilah dan disalurkan ke bank sampah, sedangkan limbah organik diolah melalui biopori dan budi daya maggot Black Soldier Fly yang menghasilkan pupuk organik atau casgot.

Untuk mengurangi risiko genangan saat hujan deras, area rumah juga dilengkapi sumur resapan berlapis ijuk sehingga air dapat lebih cepat meresap kembali ke dalam tanah.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Bumi Macakal menunjukkan bahwa konsep rumah ramah lingkungan bukan sekadar mengurangi dampak terhadap alam, tetapi juga membangun kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

"kita ingin agar rumah tempat tinggal kita selain bermanfaat untuk diri kita sendiri juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. bermanfaat bagi udara menjadi lebih bersih". Pungkas Irman .

Diperkenalkan melalui kanal YouTube DAAI Magazine.  Hunian ini dijadikan contoh bagaimana sebuah rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Bumi Macakal rumah listrik air bsd