RADARTUBAN — Palung Mariana merupakan kawasan terdalam di lautan dunia yang terletak di Samudra Pasifik bagian barat.
Membentang sepanjang 2.500 kilometer antara Jepang dan Australia, titik terendahnya yang dikenal sebagai Challenger Deep mencapai kedalaman ekstrem sekitar 10.934 meter di bawah permukaan laut.
Dilansir dari kanal YouTube Belajar Dunia Purba, Palung Mariana terbentuk akibat proses subduksi lempeng tektonik, di mana Lempeng Pasifik yang lebih tua dan berat terdorong menunjak ke bawah Lempeng Mariana.
Di kedalaman ini, kondisi lingkungan berubah drastis tanpa pancaran sinar matahari, suhu mendekati titik beku, serta tekanan air ekstrem yang diperkirakan 1.000 kali lebih kuat daripada tekanan di permukaan bumi, setara dengan beban puluhan pesawat jet yang ditumpuk di atas tubuh manusia.
Baca Juga: Nyangkut Jala, Disisihkan ke Area Palung
Sejarah eksplorasi tempat misterius ini dimulai pada tahun 1875 lewat Ekspedisi HMS Challenger. Saat itu, krunya tidak hanya menemukan kedalaman laut yang tak terduga, tetapi juga berhasil mengangkat fosil gigi hiu purba raksasa, Odotodus Megalodon.
Penemuan tersebut sempat memicu spekulasi dan imajinasi publik mengenai keberadaan monster purba yang masih bertahan hidup di kegelapan laut dalam.
Eksplorasi berlanjut pada tahun 1960 ketika Jacques Piccard dan Don Walsh menjadi manusia pertama yang berhasil menyelam hingga kedalaman 10.911 meter menggunakan kapal selam khusus Trieste.
Kemudian pada tahun 2019, penjelajah Victor Vescovo berhasil memecahkan rekor penyelaman terdalam sejauh 10.927 meter sekaligus mendokumentasikan ekosistem unik di zona hadal.
Meski terisolasi dari dunia luar, ekosistem Palung Mariana menyimpan keanekaragaman hayati yang menakjubkan. Berbagai organisme mampu beradaptasi secara ekstrem, seperti ikan transparan Mariana Snailfish yang memiliki molekul khusus tMAO untuk mencegah sel tubuhnya hancur oleh tekanan air, hingga ikan penghuni Midnight Zone yang memanfaatkan fitur bioluminesensi (mampu memancarkan cahaya sendiri).
Fakta mengejutkan terungkap pada penelitian tahun 2022 oleh Natural History Museum London. Dari analisis DNA sampel dasar laut dalam, sekitar 60 persen sampel DNA yang ditemukan sama sekali tidak cocok dengan basis data organisme yang dikenal manusia saat ini.
Hal ini membuktikan bahwa pemahaman manusia mengenai ekosistem laut dalam di bumi masih sangat terbatas dibandingkan eksplorasi luar angkasa. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Belajar Dunia Purba