RADARTUBAN — Sensasi visual dan gaya penceritaan yang inovatif dari film Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) terbukti meredefinisikan ulang industri animasi global.
Dikutip dari kanal YouTube MackInFlix, film ini secara berani mendobrak tradisi animasi komputasi 3D modern yang selama lebih dari dua dekade terobsesi dengan fotorealisme dan pergerakan yang serba mulus.
Sejak kesuksesan Toy Story pada tahun 1995, studio-studio besar di Hollywood berlomba-lomba menghasilkan detail seakurat mungkin di dunia nyata.
Namun, Sony Pictures Animation yang saat itu di bawah arahan produser Phil Lord dan Christopher Miller, mengambil keputusan berisiko tinggi dengan secara sengaja memasukkan elemen ketidaksempurnaan, seperti efek cetak benday dots, teknik cetak yang sedikit tidak presisi, hingga gaya komik klasik.
"Jika sistemnya tidak rusak, rusakkan saja," ujar pengarah efek visual Danny Dimian mengenai filosofi pembuatan film tersebut.
Baca Juga: Spiderman 4 Resmi Berjudul Brand New Day, Tom Holland Beri Bocoran Cerita
Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah bagaimana Spider-Verse memanfaatkan teknik animating on twos (menahan satu pose selama dua frame) untuk merefleksikan perkembangan karakter Miles Morales.
Pada adegan awal, gerakan Miles dibuat choppy atau patah-patah pada 12 frame per detik untuk menunjukkan ketidaksiapan dan ketanggungannya.
Sebaliknya, karakter Peter B. Parker bergerak mulus pada 24 frame per detik (animating on ones).
Gerakan Miles baru menyatu secara mulus pada 24 frame per detik tepat di adegan ikonik Leap of Faith, saat ia akhirnya yakin dan siap menjadi Spider-Man sepenuhnya.
Dampak dari keberanian estetika ini sangat luar biasa. Into the Spider-Verse memenangkan penghargaan Oscar untuk Film Animasi Terbaik pada tahun 2019, mematahkan dominasi panjang Disney dan Pixar.
Keberhasilannya juga menginspirasi era baru dalam animasi Hollywood, seperti yang terlihat pada gaya visual film Puss in Boots: The Last Wish dan Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube MackInFlix