RADARTUBAN — Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini merambah ke industri pembuatan visual efek (VFX) perfilman.
Industri sinema yang selama ini mengandalkan proses rendering rumit berbasis simulasi pencahayaan fisik dan kalkulasi partikel digital mulai diuji dengan kehadiran generator AI yang mampu memproduksi citra visual hanya dalam hitungan detik.
Untuk menguji sejauh mana kemampuan AI dalam menggantikan atau menandingi karya seniman efek visual, seorang kreator konten VFX, Erik, merilis sebuah riset independen berupa kompetisi pembuatan adegan penerbangan naga ala serial House of the Dragon.
Eksperimen ini membandingkan teknik pengerjaan tradisional VFX berbasis perangkat lunak CGI modern dengan pemrosesan video otomatis menggunakan AI dari perusahaan platform kecerdasan buatan, Hicksfield.
Dalam pengerjaan efek visual konvensional, pembuatan satu adegan bertema fantasi membutuhkan gabungan keahlian mulai dari pemodelan 3D, animasi karakter, simulasi fisika, hingga pencahayaan realistis.
"Satu dekade lalu hingga saat ini, proses rendering untuk satu frame gambar kualitas film layar lebar masih dapat memakan waktu bertahun-tahun atau jam demi jam. Hal ini terjadi karena komputer harus mensimulasikan jutaan pantulan cahaya secara akurat (path tracing) agar objek fantasi menyatu dengan latar belakang nyata," seperti dikutip dari kanal YouTube ErikDoesVFX.
Dalam proyek eksperimennya, Erik mengambil rekaman latar belakang nyata di Islandia, lalu mensimulasikan interaksi antara naga, partikel air terjun, dan pencahayaan alami di perangkat lunak Houdini dan Blender.
Proses rendering adegan VFX tersebut membutuhkan waktu hingga 12 jam untuk menghasilkan konsistensi bentuk fisik, pencahayaan, serta pergerakan karakter yang presisi.
Di sisi lain, platform AI mencoba memproses rekaman yang sama dengan metode image-to-video dan video-to-video. AI mampu menghasilkan adegan dalam hitungan detik hingga menit tanpa melalui proses kalkulasi fisika 3D space.
AI menunjukkan hasil yang jauh lebih baik ketika diberi kebebasan penuh untuk merancang adegan dari awal menggunakan model generator generasi terbaru, seperti CogVideo atau Kling.
Namun, ketika AI diminta untuk mengikuti visi sutradara secara spesifik berdasarkan rekaman lapangan asli, AI terbukti belum mampu menyamai fleksibilitas dan presisi seniman VFX manusia.
Teknologi kecerdasan buatan memang menawarkan efisiensi waktu yang dramatis dalam pembuatan konten visual.
Namun, untuk produksi film berskala besar yang membutuhkan konsistensi narasi, akurasi fisika, dan kontrol mendalam terhadap setiap elemen visual, teknik VFX tradisional yang dikerjakan oleh seniman profesional masih belum dapat tergantikan sepenuhnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube ErikDoesVFX