RADARTUBAN - Industri perfilman Tiongkok dihebohkan oleh fenomena unik dari penayangan film animasi independen berjudul New Niu Lai (The Cow is Coming).
Kendati secara visual dinilai berada jauh di bawah standar animasi bioskop modern, film berdurasi 86 menit ini justru sukses mencatatkan pendapatan fantastis hingga mencapai 14,9 juta yuan atau setara dengan Rp 40 miliar.
Pada awal perilisannya pada 5 Agustus, film ini sempat diprediksi gagal total setelah hanya meraup pendapatan sebesar 7.700 yuan dalam 10 hari pertama.
Tanpa adanya tur promosi, iklan komersial, maupun video cuplikan, film animasi ini hampir tidak dilirik oleh penonton bioskop lokal.
Namun, popularitasnya melesat tajam setelah potongan video film tersebut tersebar luas di media sosial melalui pemasaran dari mulut ke mulut.
"Saking jeleknya film ini, orang-orang malah bisa menikmati. Fenomena it's so bad, it's good membuat orang penasaran dan akhirnya berbondong-bondong datang ke bioskop," Ucap Eno Bening saat memberikan cuplikan film New Niu Lai dengan grafik yang jauh dari CGI film pasaran.
Dibalik tampilannya yang sederhana, New Niu Lai menyimpan kisah pembuatan yang emosional.
Film animasi ini murni merupakan proyek independen yang dikerjakan hanya oleh dua orang, yakni seorang anak dan ibunya.
Tanpa memanfaatkan teknologi AI, proses produksi dikerjakan secara manual menggunakan perangkat lunak dasar seperti Blender dan Adobe Premiere Pro selama kurun waktu lima tahun.
Lonjakan jumlah penonton juga didorong oleh meningkatnya sentimen publik yang lebih memilih untuk mendukung karya otentik buatan manusia ketimbang animasi yang dihasilkan secara otomatis oleh kecerdasan buatan.
Pemasokan film ke jaringan bioskop pun tidak lepas dari bantuan kerabat yang bertindak sebagai distributor independen.
Kesuksesan tak terduga ini menjadikan New Niu Lai sebagai salah satu fenomena budaya populer unik dalam industri sinema Tiongkok, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan teknis dapat tertutupi oleh nilai narasi dibalik pembuatannya.
Keberhasilan film New Niu Lai membuktikan bahwa daya tarik sebuah karya seni tidak hanya diukur dari kerapian teknis atau besarnya anggaran produksi.
Ketulusan dalam proses pembuatan secara manual serta narasi emosional di balik layar mampu menciptakan ikatan kuat dengan penonton, menjadikan proyek sederhana ini mampu bersaing di tengah gempuran tren animasi modern berbasis kecerdasan buatan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni