Siapa The King in Yellow? Asal-usul Entitas Horor yang Menghantui Gim hingga Filme

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:03 WIB
Misteri The King in Yellow sebagai simbol obsesi pengetahuan dan bahaya kognitif dalam budaya pop modern. (pinterest.com)
Misteri The King in Yellow sebagai simbol obsesi pengetahuan dan bahaya kognitif dalam budaya pop modern. (pinterest.com)

RADARTUBAN -  Pernahkah kamu merasa heran saat bermain gim seperti Signalis atau Fear & Hunger, lalu mendapati elemen misterius berselimut warna kuning yang terus bermunculan?

Atau mungkin kamu pernah mendengar kisah tentang sebuah buku naskah drama terlarang yang konon bisa membuat siapa pun pembacanya menjadi gila secara perlahan?

Entitas legendaris bernama The King in Yellow kini tengah bangkit kembali dan merebut perhatian di ranah budaya populer modern.

Dikutip dari kanal Youtube Joutatou, dijelaskan bahwa The King in Yellow merupakan salah satu karakter horor kosmik paling fleksibel yang pernah ada.

Dimana sifatnya yang misterius membuat hampir setiap bentuk interpretasi modern terhadapnya dapat dianggap benar.

Baca Juga: Mengenal Katy Freeway: Jalan Terluas di Dunia dengan 26 Lajur, Monster Beton Amerika!

Banyak dari kita yang mungkin mengira bahwa sosok The King in Yellow diciptakan oleh empu horor kosmik ternama, H.P. Lovecraft. 

Namun, jika kita menelusuri sejarahnya lebih jauh, pemikiran tersebut ternyata kurang tepat. Konsep dasar mengenai entitas ini sebenarnya berakar dari penulis bernama Ambrose Bierce pada akhir abad ke-19.

Dalam karya fiksi awalnya, nama-nama seperti Hastur, Carcosa, dan Hali pertama kali diperkenalkan ke publik. Menariknya, pada saat itu sosok Hastur bukanlah sosok monster gurita yang mengerikan, melainkan digambarkan sebagai dewa pelindung bagi para penggembala yang bernilai positif.

Perubahan besar-besaran baru terjadi ketika Robert W. Chambers menerbitkan buku kumpulan cerita pendek bertajuk The King in Yellow pada tahun 1895.

Chambers mengubah nama-nama dari mitologi Bierce tersebut menjadi ide yang jauh lebih kelam: sebuah naskah drama misterius dua babak. 

Dalam penulisan Chambers, babak pertama dari naskah drama tersebut tampak biasa saja dan aman dibaca. Namun, jika seseorang nekat melanjutkan membaca hingga babak kedua, pikiran mereka akan dibukakan pada rahasia semesta yang teramat mengerikan hingga memicu kegilaan total.

Seiring berjalannya waktu, karakterisasi entitas ini mengalami distorsi yang cukup signifikan ketika ditangani oleh penulis era 1940-an, August Derleth.

Derleth mulai menggabungkan Hastur dan The King in Yellow menjadi satu entitas fisik berbentuk monster gurita berukuran raksasa.

Mengenai pergeseran bentuk entitas tersebut dari yang awalnya naskah ideologis menjadi monster fisik bertentakel. Interpretasi Derleth dinilai meleset dari esensi utama versi Chambers yang sejatinya menyerahkan efek ilusi dan ketakutan penuh pada imajinasi liar sang pembaca.

Kisah The King in Yellow pada dasarnya bekerja sebagai cermin besar bagi obsesi serta kegagalan manusia. Sering kali, para karakter di dalam ceritanya meyakini bahwa mereka telah menemukan kebenaran agung atau ditakdirkan menjadi penguasa besar setelah membaca naskah tersebut.

Namun, pada kenyataannya mereka justru tenggelam dalam delusi kegilaan. Kehadiran simbol rahasia seperti Yellow Sign (Simbol Kuning) bertindak sebagai penanda bahwa nasib buruk mereka sudah terkunci dan tidak mungkin lagi bisa dihindari.

Pada akhirnya, fenomena kembalinya The King in Yellow di era modern menunjukkan bahwa bentuk horor paling efektif bukanlah jumpscare yang terkesan membuat kaget, melainkan ide cerita yang dibiarkan tumbuh dan merayap di dalam pikiran kita sendiri.

Melalui karya-karya domain publik yang terus diolah secara kreatif, entitas legendaris ini terbukti berhasil melintasi batas zaman dari sekadar naskah cetak tua di akhir abad ke-19 hingga menjadi ikon horor kosmik yang terus menghantui layar kaca kita hari ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
The King in Yellow entitas horor budaya