RADARTUBAN – Fenomena batu akik sempat menguasai panggung ekonomi dan budaya populer di Indonesia.
Cincin dengan batuan berkilau seperti bacan, safir, zamrud, ruby, hingga giok yang semula berharga ratusan ribu rupiah mendadak melambung tinggi hingga dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Namun, dalam rentang waktu yang sangat singkat, pasar batu akik yang fenomenal tersebut redup dan ditinggalkan masyarakat.
Awalnya, hobi mengoleksi batu akik tergolong sangat segmented dan kental dengan nilai mistis, seperti kepercayaan akan khodam pelindung maupun pengasihan.
Titik balik pergeseran persepsi publik terjadi sekitar tahun 2014, ketika tokoh publik sekelas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kedapatan mengenakan dan memberikan cincin batu akik sebagai cenderamata bagi para pimpinan dunia.
Kesan mistis batu akik terkikis dan bergeser menjadi simbol status sosial yang elit. Media massa menggoreng tren ini secara masif, hingga kios pemotong batu dan suara mesin gerinda menjamur di hampir setiap sudut jalan.
Baca Juga: Dari Ambil Cincin Hingga Evakuasi Ular, Damkar Tuban Jadi Superhero Serba Bisa
Lonjakan popularitas tersebut mengubah komoditas hobi ini dari sekadar kesenangan pribadi menjadi instrumen keuntungan finansial. Banyak pembeli awam yang didorong rasa takut ketinggalan momen (fear of missing out/FOMO) nekat menguras tabungan, menjual sepeda motor, hingga menukar mobil demi memiliki bongkahan batu mentah dengan harapan nilai jualnya terus melonjak.
Tren yang sering dikategorikan ekonom sebagai monkey business ini mencapai puncaknya pada tahun 2015. Namun, ketika pasokan (supply) melonjak sementara daya beli dan permintaan (demand) masyarakat menurun, gelembung harga batu akik akhirnya pecah secara drastis hanya dalam rentang waktu satu tahun.
Pecahnya gelembung pasar batu akik kini menjadi template pelajaran penting bagi industri hobi modern. Pola serupa terulang pada tren spekulatif lain seperti aset digital NFT, tanaman hias, hingga perburuan barang koleksi oleh scalper.
Ketika suatu barang hobi digoreng narasinya demi mengejar keuntungan cepat, nilainya hanya bergantung pada spekulasi sosial belakangan. Begitu hype dan spekulan pergi dari pasar, harganya pun anjlok.
Kehancuran pasar ini menegaskan bahwa esensi tertinggi dari sebuah hobi adalah kepuasan batin dan apresiasi seni, bukan spekulasi finansial semata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni