Gara-Gara Nama Tur Konser, Band Metal Demon Hunter Gugat Netflix dan AEG Presents

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:51 WIB
Ilustrasi  animasi Demon Hunters. (pinterest.com)
Ilustrasi animasi Demon Hunters. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Sebuah perselisihan hukum melanda industri hiburan global setelah band heavy metal asal Seattle, Amerika Serikat, bernama Demon Hunter yang resmi melayangkan gugatan terhadap layanan platform streaming Netflix serta pihak promotor konser AEG Presents.

Langkah hukum tersebut ditempuh oleh Hyde Lane, perusahaan yang mengelola dan memayungi operasional band tersebut melalui pendaftaran gugatan pada 18 Agustus 2026.

Fokus utama dalam gugatan ini berkisar pada tuduhan pelanggaran merek dagang yang timbul akibat kepopuleran film animasi fenomenal keluaran Netflix yang bertajuk KPop Demon Hunters.

Baca Juga: Film Animasi KPop Demon Hunters Masuk Koleksi Kriteria Eksklusif

Akar permasalahan berawal dari rencana ekspansi komersial yang dirancang oleh Netflix bersama AEG Presents. Setelah film animasi tersebut meraih kesuksesan yang sangat masif sejak diluncurkan pada Juni 2025, kedua raksasa hiburan itu mengumumkan kemitraan pada Mei untuk menggelar tur konser live berskala global pada tahun 2027.

Tur pertunjukan tersebut direncanakan membawa konsep serta musik-musik yang diadaptasi langsung dari film animasi itu ke atas panggung hiburan secara langsung.

Disebut Langgar Hak Kekayaan Intelektual

Namun, bagi pihak grup band Demon Hunter, penggunaan nama tersebut untuk pertunjukan musik langsung dan produk terkait dinilai telah melanggar hak kekayaan intelektual mereka serta memicu kekeliruan nyata di tengah-tengah masyarakat.

Grup musik Demon Hunter sendiri merupakan band yang didirikan pada tahun 2000 oleh dua bersaudara, Don Clark dan Ryan Clark.

Selama puluhan tahun berkiprah di industri musik, mereka dikenal konsisten mengusung perpaduan aliran metalcore yang dinamis dan alternative metal, yang dipadukan dengan alunan vokal melodius serta narasi bertema spiritual.

Untuk melindungi identitas karyanya, band ini telah mendaftarkan hak merek dagang atas nama "Demon Hunter" khusus untuk ranah pertunjukan hiburan langsung sejak tahun 2014.

Perlindungan hak cipta dan merek tersebut kemudian diperluas kembali pada tahun 2022 guna mencakup ranah rekaman audio musik hingga penjualan merchandise resmi.

Picu Kebingungan Publik

Menurut pemaparan pihak band, pengumuman proyek tur konser oleh Netflix dan AEG telah berdampak langsung pada operasional mereka dan memicu kebingungan publik.

Beberapa insiden nyata dilaporkan mulai terjadi di lapangan. Salah satu contohnya adalah keberadaan orang tua murid yang sempat menghubungi manajemen band untuk meminta pengembalian uang (refund) tiket.

Penggemar tersebut secara tidak sengaja membeli tiket konser tur band metal Demon Hunter karena mengira acara itu merupakan pertunjukan panggung dari film animasi KPop Demon Hunters.

Tak hanya itu, kekeliruan juga merambah ranah media massal ketika produser dari program televisi kenamaan Inside Edition salah mengontak manajemen band dengan maksud mewawancarai komposer lagu dari film Netflix tersebut.

Rangkaian kekacauan identitas merek ini dinilai oleh manajemen Demon Hunter sebagai ancaman serius yang memicu krisis eksistensial bagi perjalanan karier mereka, terlebih di saat band tersebut tengah bersiap melangsungkan tur konser keliling Amerika Serikat pada Oktober mendatang.

Dalam tuntutan resminya di Pengadilan Federal California, pihak Demon Hunter mendesak hakim untuk melarang penggunaan frasa KPop Demon Hunters pada berbagai produk rekaman musik, merchandise, hingga promosi tur konser.

Selain itu, mereka menuntut ganti rugi secara finansial dengan besaran nominal yang nantinya akan ditetapkan melalui proses persidangan.

Sebagai informasi pendukung, film animasi KPop Demon Hunters sendiri berkisah tentang sekelompok idola K-Pop yang secara rahasia menjalankan misi memburu iblis.

Animasi ini berhasil menjadi fenomena budaya pop dunia, memecahkan rekor sebagai film yang paling banyak ditonton dalam sejarah platform Netflix, serta meraih dua penghargaan Piala Oscar untuk kategori Best Animated Feature dan Best Song.

Siap Dalam Tahap Peradilan

Menanggapi gugatan yang dilayangkan tersebut, juru bicara Netflix menegaskan bahwa tuduhan yang diajukan oleh pihak band Demon Hunter tidak bersumber dari alasan yang kuat secara hukum.

Pihak Netflix menyatakan kesiapannya untuk menghadapi proses peradilan dan siap melakukan pembelaan diri secara tegas di pengadilan.

Sementara itu, John Tehranian selaku kuasa hukum yang mewakili band Demon Hunter dari firma hukum One LLP memilih untuk tidak memberikan komentar tambahan terkait proses hukum yang sedang berjalan. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
KPop Demon Hunters Demon Hunter gugat netflix demon hunter netflix