Menengok Kampung Jawa di Tiongkok, Tempat Budaya dan Bahasa Nusantara Tetap Lestari

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:45 WIB
Grup musik lansia keturunan Tionghoa-Indonesia tampil membawakan lagu-lagu Nusantara dengan mengenakan kemeja batik dan peci di Liuzhou, Guangxi, Tiongkok. (youtube.com/ Rudy Chen)
Grup musik lansia keturunan Tionghoa-Indonesia tampil membawakan lagu-lagu Nusantara dengan mengenakan kemeja batik dan peci di Liuzhou, Guangxi, Tiongkok. (youtube.com/ Rudy Chen)

RADARTUBAN - Kehadiran Kampung Jawa di Tiongkok, tepatnya di kawasan pertanian Tionghoa Perantauan di Liuzhou, Provinsi Guangxi Tiongkok menjadi bukti nyata bagaimana budaya Indonesia di Tiongkok dan tuturan bahasa daerah masih terawat dengan kuat di tengah kehidupan warga lansia perantauan.

Di kawasan yang terbentuk dari gelombang repatriasi Tionghoa Indonesia pada era 1960-an ini, logat Jawa ngoko serta sapaan bahasa Indonesia masih terdengar lumrah dalam percakapan sehari-hari. 

Ungkapan sederhana seperti "iki omahku" (ini rumahku) atau "panggake ngombe kopi disik" (mari minum kopi dulu) kerap terlontar secara alami di Kampung Kesatu, tempat bermukimnya para keturunan peranakan yang pernah menghabiskan masa muda mereka di Surabaya, Malang, Banyuwangi, Palembang, hingga Medan.

Baca Juga: Tan Khoen Swie: Penerbit Tionghoa yang Mengabadikan Sastra Jawa, Bikin Kediri Tak Hanya Gudang Garam

Sejarah mencatat bahwa pada kurun waktu tersebut, puluhan ribu warga Tionghoa perantauan dari Indonesia memilih kembali ke tanah leluhur.

Pemerintah Tiongkok kemudian menempatkan mereka di 84 lahan pertanian khusus yang tersebar di berbagai provinsi untuk memulai kehidupan dari nol.

Perjuangan hidup para warga repatriasi di Liuzhou terbilang penuh tantangan. Saat pertama kali tiba dengan kondisi serba terbatas, mereka bekerja keras membuka lahan secara manual untuk menanam singkong, jagung, dan padi. 

Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi perkebunan teh hingga bertransformasi menjadi pusat penghasil buah jeruk berkualitas. 

Hasil panen jeruk dari Liuzhou bahkan kini telah berhasil menembus pasar ekspor internasional, termasuk didistribusikan kembali ke Indonesia.

Daya tarik dan kehangatan komunitas unik kampung jawa di Tiongkok ini sempat diabadikan oleh kreator konten Rudy Chen melalui saluran YouTube pribadinya. 

Dalam unggahannya, Rudy memperlihatkan bagaimana memori akan tanah air tidak hanya dijaga lewat tuturan bahasa, tetapi juga melalui seni dan sajian kuliner tradisional.

Untuk mengobati rasa rindu, para lansia masih aktif memasak menu rumahan khas Nusantara. 

Olahan seperti brengkes atau pepes ikan berbungkus daun pisang, tumis jantung pisang, hingga sambal petai tetap menjadi hidangan favorit yang menghadirkan kenangan masa lalu.

Tak hanya kuliner, denyut kebudayaan Indonesia juga terus bergema lewat nada. Sejak tahun 2012, para warga lansia mendirikan grup musik amatir. 

Di waktu luang, mereka berkumpul memainkan instrumen gitar, bas, drum, dan kecek sambil menyanyikan tembang-tembang daerah seperti Tanjung Perak dan Rek Ayo Rek, hingga lagu nasional Indonesia Pusaka.

Bagi para penghuni lansia di Liuzhou yang sebagian besar belum pernah kembali ke Indonesia selama puluhan tahun, Nusantara bukan sekadar ingatan geografis, tetapi identitas dasar, bahasa ibu, serta jalinan memori hangat yang terus mereka dekap erat di tanah perantauan. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Kampung jawa di tiongkok liuzhou nusantara Indonesia tiongkok