Gurita dan Kepiting Bisa Merasakan Sakit seperti Manusia? Ini Kata Ilmuwan

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:06 WIB
Penelitian kesadaran dan persepsi rasa sakit pada hewan invertebrata. (Magnific)
Penelitian kesadaran dan persepsi rasa sakit pada hewan invertebrata. (Magnific)

RADARTUBAN - Apakah hewan invertebrata seperti gurita, kepiting, dan udang memiliki kesadaran serta mampu merasakan rasa sakit layaknya manusia dan mamalia lainnya?

Pertanyaan mendasar ini kini menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan biologi, ahli saraf, dan pembuat kebijakan.

Perdebatan tersebut kembali mencuat setelah pemerintah Inggris memperbarui undang-undang kesejahteraan hewan (Animal Welfare Law) mereka dengan memasukkan kelompok moluska sefalopoda dan krustasea dekapoda ke dalam daftar makhluk yang diakui memiliki kesadaran.

Secara etimologi dan definisi ilmiah, kesadaran merujuk pada kemampuan suatu organisme untuk memiliki pengalaman subjektif, seperti merasakan sensasi baik atau buruk, termasuk rasa sakit.

Baca Juga: Meksiko Tak Hanya Soal Wisata, Ada Gurita Kartel Narkoba yang Mengakar hingga ke Pelosok

Manusia dan mamalia memiliki lapisan otak luar yang disebut neocortex, yang berperan penting dalam memproses persepsi rasa sakit. Namun, garis evolusi antara mamalia dan invertebrata telah terpisah lebih dari setengah miliar tahun lalu. 

Tidak adanya neocortex pada hewan seperti gurita dan kepiting selama ini membuat sebagian ilmuwan berasumsi bahwa respons mereka terhadap bahaya hanyalah refleks saraf otomatis.

Untuk membedakan antara refleks fisik sederhana dan pengalaman rasa sakit yang nyata, para peneliti melakukan serangkaian eksperimen perilaku yang kompleks.

Salah satu pengujian utama yang menjadi bukti kuat memperlihatkan bagaimana gurita yang disuntikkan cairan asam asetat pada lengannya akan menghindari bagian akuarium yang diasosiasikan dengan pengalaman menyakitkan tersebut. 

Perilaku fleksibel dan ingatan jangka pendek ini menunjukkan bahwa respons hewan tersebut berada jauh di luar skala refleks otomatis.

Peneliti kebijakan kesejahteraan hewan, Heather Browning, menjelaskan bagaimana timnya menyusun parameter untuk mengukur kesadaran pada hewan yang tidak memiliki struktur otak mirip manusia.

Dikutip dari kanal YouTube Howtown, Heather Browning menyatakan, "Yang kami harapkan adalah mengumpulkan serangkaian bukti di berbagai bidang yang dapat meningkatkan probabilitas penjelasan kesadaran, sehingga hal itu menjadi penjelasan yang lebih baik atas apa yang kami amati daripada sekadar penjelasan skeptis."

Dalam laporan kajiannya, tim peneliti menetapkan delapan kriteria anatomi dan perilaku untuk menilai kesadaran.

Dari hasil evaluasi, gurita terbukti memenuhi tujuh kriteria, sementara kepiting memenuhi setidaknya lima kriteria, termasuk kemampuan belajar menghindari area yang memberikan kejutan listrik.

Kesimpulannya, keputusan untuk memasukkan invertebrata ke dalam skema perlindungan hukum menunjukkan pergeseran paradigma ilmiah yang memberi keraguan bermanfaat (benefit of the doubt) bagi hewan-hewan tersebut.

Langkah ini berpotensi mengubah standar perlakuan terhadap hewan dalam industri kuliner, laboratorium riset, dan akuarium di berbagai negara pada masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
gurita ilmuan kepiting sakit