RADARTUBAN - Di balik setiap warna kemasan sereal yang cerah, logo korporat yang konsisten, hingga warna merah target yang ikonik, terdapat sebuah standar internasional yang mengontrolnya.
Sistem warna Pantone, yang dikembangkan oleh Larry Herbert pada tahun 1963, telah menjadi bahasa utama dalam dunia percetakan dan desain global.
Meski Pantone tidak menjual tinta cetak secara langsung, perusahaan ini meraup keuntungan jutaan dolar hanya dari menjual buku panduan warna standar dan lisensi kode warna. Namun, monopolinya dalam industri kini menuai frustrasi dari para perancang busana, desainer grafis, hingga praktisi percetakan akibat tingginya biaya investasi yang harus dikeluarkan secara berkala.
Panduan warna fisik Pantone yang digunakan desainer dan percetakan dibanderol dari ratusan hingga ribuan dolar, bahkan satu set lengkap buku panduannya dapat mencapai lebih dari 9 ribu dolar AS (sekitar Rp 140 juta).
Tidak hanya harganya yang melambung tinggi, pihak Pantone juga merekomendasikan penggantian buku panduan fisik tersebut setiap 12 hingga 18 bulan sekali karena sifat kertas dan tinta yang dapat menguning atau pudar seiring waktu.
Kebijakan ini dinilai sangat memberatkan desainer independen dan studio kecil yang memiliki keterbatasan anggaran.
Keluhan desainer kian memuncak ketika Pantone menarik sistem warnanya dari perangkat lunak utama seperti Adobe Photoshop dan Illustrator pada Oktober 2022.
Baca Juga: Sedot Ribuan Pengunjung, Kemegahan Puncak HUT Ke-1866 Kongco Kwan Sing Tee Koen Warnai Tuban
Para desainer yang sebelumnya mendapatkan akses warna Pantone secara gratis kini diwajibkan membayar biaya langganan bulanan tambahan di luar langganan Adobe hanya untuk membuka dan menggunakan palet warna standar tersebut pada proyek digital mereka.
Desainer industri Rotimi mengekspresikan keterkejutannya terhadap tingginya biaya operasional yang dibebankan oleh penyedia standar warna tunggal ini.
"Ketika saya memberi tahu orang-orang bahwa saya menghabiskan 1.000 dolar AS hanya untuk satu set warna abu-abu, mereka melihat saya seperti orang gila." Ucap Rotimi dalam kanal YouTube Business Insider.
Dikutip dari kanal YouTube Business Insider, desainer Stuart Semple menegaskan, "Pantone tidak memiliki warnanya, yang mereka miliki hanyalah kode yang dikaitkan dengan warna tersebut. Jadi mereka tidak memiliki warna itu sendiri, melainkan bahasa yang kita gunakan untuk mendeskripsikannya."
Meskipun memicu kritik pedas terkait biaya dan model langganan yang mahal, mayoritas desainer dan percetakan besar menyadari bahwa mereka sulit terlepas dari ekosistem Pantone.
Kebutuhan akan konsistensi warna yang presisi pada skala produksi massal global tetap menjadikan Pantone sebagai investasi yang tak terhindarkan. Sistem pencocokan ini memastikan warna sebuah produk tetap sama persis meskipun dicetak di fasilitas percetakan yang berbeda di seluruh dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni