Manfaatkan AI dan Konsep Zero Waste, Lulusan Arsitektur Sukses Olah Kelapa Jadi VCO hingga Blondo

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:37 WIB
Yosua Putra memilah kelapa tua berkualitas di rumah produksinya, (Tangkapan Layar YouTube CapCapung)
Yosua Putra memilah kelapa tua berkualitas di rumah produksinya, (Tangkapan Layar YouTube CapCapung)

RADARTUBAN - Berbekal latar belakang pendidikan arsitektur tak menghalangi Yosua Putra untuk terjun ke dunia olahan pangan.

Pemuda asal Wonogiri, Jawa Tengah ini berhasil memutarkan roda usahanya yang sempat ambruk hingga kini mampu memproduksi minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO), minyak goreng kelapa, hingga blondo berdaya jual tinggi.

Perjalanan bisnis Yosua dimulai dari masa pandemi COVID-19 saat ia masih berstatus mahasiswa.

Melihat tingginya permintaan pasar global terhadap produk kesehatan berbasis kelapa, ia memberanikan diri membuat VCO skala kecil di kamar kosnya sebelum akhirnya memutuskan membangun mini industri. 

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus, usahanya sempat terhenti total akibat lonjakan harga bahan baku kelapa yang tak terkendali.

Baca Juga: Profil Muhasan, Sosok di Balik Upaya Menghidupkan Pantai Kelapa

Titik balik kebangkitan usahanya terjadi ketika Yosua memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai media diskusi riset dan analisis data produksi. 

Melalui kombinasi data riil di lapangan dan analisis AI, ia merombak strategi bisnisnya dari yang semula hanya mengandalkan satu produk menjadi sistem pengolahan kelapa terpadu (diversifikasi).

​"Jujur kita menggunakan AI untuk belajarnya. Waktu kejadian kita gagal kemarin atau jatuh, di situ saya diskusi sama AI untuk berbagai macam pengolahannya. Kita dapat data yang cocok, riset dan segala macamnya kita compare, lalu hasilnya keluar," ungkap Yosua.

​Melalui metode substitusi silang tersebut, satu kali pasokan kelapa tua yang datang langsung dipilah ke dalam persentase produk yang berbeda-beda. Strategi ini memastikan bahwa biaya operasional utama pabrik dapat tertutup oleh produk primer, sementara produk sampingan menjadi sumber keuntungan bersih.

​Tak hanya itu, usaha yang berlokasi di Dusun Plosorejo, Desa Ngadirojo tersebut mengusung prinsip zero waste atau tanpa limbah.

Air kelapa dimanfaatkan untuk bahan baku pestisida dan nata de coco, tempurung kelapa diserap oleh industri briket arang, sedangkan ampas keringnya diproses kembali menjadi pakan ternak dan bahan baku minyak kosmetik.

​Kini, melalui pemanfaatan media sosial dan pasar digital, produk-produknya tidak hanya menjangkau pembeli eceran, tetapi juga menyuplai industri kosmetik, rumah makan, hingga rantai pasok grosir di berbagai daerah.

Bagi Yosua, krisis yang sempat menimpanya bukanlah akhir, melainkan dorongan untuk berani berinovasi dan naik kelas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
VCO AI minyak kelapa kelapa