Resmi Jadi Anggota ASEAN! Mengapa Timor Leste Dulu Memilih Lepas dari Indonesia?

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 12:58 WIB
Ilustrasi bendera Timor Leste berkibar bersama bendera ASEAN. (Tangkapan layar Youtube)
Ilustrasi bendera Timor Leste berkibar bersama bendera ASEAN. (Tangkapan layar Youtube)

RADARTUBAN - Kabar gembira datang dari kawasan Asia Tenggara. ASEAN secara resmi menyambut Timor Leste sebagai anggota terbarunya pada 26 Oktober 2025 lalu.

Momen ini menjadi catatan sejarah baru bagi negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Nusa Tenggara Timur tersebut. Namun, melihat ke belakang, apa sebenarnya alasan utama Timor Leste memilih berpisah dari Indonesia puluhan tahun lalu?

Pertanyaan ini dibahas secara lugas dan sederhana dalam sebuah tayangan video edukasi di kanal "YouTube Kok Bisa?"

Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa akar perbedaan ini sebenarnya sudah dimulai sejak masa penjajahan.

Jika sebagian besar wilayah Indonesia merupakan bekas jajahan Belanda, kawasan Timor Leste, merupakan wilayah koloni Portugal. Perbedaan latar belakang sejarah kolonial inilah yang membuat status wilayah tersebut berbeda sejak awal.

Baca Juga: Hasil Timnas Indonesia U17 vs Timor Leste: Garuda Muda Menang Telak 4-0 di Piala AFF U17 2026

Perjalanan integrasi Timor Timur (nama sebelum menjadi Timor Leste) ke Indonesia sendiri dipenuhi dinamika politik yang rumit. 

Ketika pemerintah Portugal pergi meninggalkan wilayah tersebut, muncul dinamika dan perpecahan internal di antara warga lokal.

Sebagian kelompok ingin bergabung dengan Indonesia, sementara kelompok lain mendirikan partai politik sendiri bernama Fretilin.

Saat itu, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto merasa khawatir dengan keberadaan Fretilin yang menganut paham komunisme.

Pemerintah menilai paham tersebut dapat mengancam stabilitas dan kedaulatan Indonesia. Alhasil, operasi militer dilancarkan untuk masuk ke Timor Timur demi alasan keamanan nasional.

Meski demikian, dikutip dari ari pandangan Profesor Clinton Fernandes dari UNSW Canberra yang diulas dalam video tersebut, terdapat pula dugaan motivasi ekonomi di balik langkah tersebut, salah satunya potensi cadangan minyak yang melimpah.

Sayangnya, masa pendudukan militer yang berlangsung selama belasan tahun diwarnai konflik bersenjata dan kekerasan. Kondisi ini membawa duka mendalam bagi warga setempat.

Konflik tersebut mengakibatkan sekitar seperempat populasi Timor Timur meninggal dunia, sebuah tragedi kemanusiaan yang oleh banyak peneliti sejarah dikategorikan sebagai aksi genosida.

Titik balik perjuangan rakyat Timor Timur terjadi saat peristiwa pembantaian Santa Cruz terungkap ke publik.

Baca Juga: Timor Leste Resmi Jadi Anggota ke-11 ASEAN, Akhiri Penantian 13 Tahun

Rekaman video dari jurnalis asing yang meliput kejadian tersebut berhasil membuka mata dunia internasional mengenai kondisi sebenarnya di lapangan. Tekanan politik dari berbagai negara pun mulai berdatangan.

Setelah era Orde Baru berakhir dan Presiden B.J. Habibie memimpin Indonesia, opsi baru akhirnya dibuka. Habibie memberikan kesempatan emas bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan nasib mereka sendiri melalui jajak pendapat atau referendum.

Hasil suara menunjukkan mayoritas masyarakat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dan berdiri sebagai negara berdaulat.

Kini, setelah melintasi sejarah panjang dan perjuangan yang berat, Timor Leste terus melangkah maju. Negara ini fokus membangun perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan warganya, hingga akhirnya kini resmi menjadi bagian integral dari keluarga besar ASEAN.(*)

Sumber: https://youtu.be/Cu9g39w1pJc?si=XQ5xcNL6yFlwWUy0

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Timor Timur timor leste ASEAN Indonesia