Kehidupan di Pulau Terpadat: Tanpa Program KB, Nikah Muda, dan Fasilitas Serba Terbatas

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 09:10 WIB
Potret pemandangan pulau yang padat penduduk di bumi yang dipenuhi oleh bangunan rumah. (Tangkapan Layar YouTube)
Potret pemandangan pulau yang padat penduduk di bumi yang dipenuhi oleh bangunan rumah. (Tangkapan Layar YouTube)

RADARTUBAN - Sebuah pulau terisolasi yang terletak sekitar dua jam perjalanan menggunakan perahu dari daratan utama menyajikan potret kehidupan yang begitu unik sekaligus menantang.

Memiliki luas wilayah yang tidak lebih besar dari ukuran lapangan sepak bola, pulau ini terbuat seluruhnya dari gugusan karang. Meski ukurannya sangat terbatas, pulau tersebut dihuni oleh kepadatan penduduk yang sangat tinggi, yakni mencapai 60.000 jiwa.

Kondisi pemukiman di pulau ini terbilang sangat padat dan serba terbatas. Tercatat ada sekitar 220 keluarga yang tinggal secara ilegal.

Karena keterbatasan lahan kosong, banyak warga yang terpaksa membangun tempat tinggal di atas bangunan yang sudah ada.

Untuk dapat memiliki tempat tinggal, warga menyewa rumah dengan kisaran biaya antara 50 hingga 75 dolar. Infrastruktur di pulau ini pun sangat terbatas, di mana hanya terdapat empat ruas jalan utama untuk menopang aktivitas seluruh warganya.

Baca Juga: Ombak Tak Jadi Halangan, Mantri BRI Tempuh Laut demi Layani Warga di Pulau-Pulau Kecil

Selain masalah pemukiman, fasilitas sanitasi dan lingkungan menjadi tantangan besar sehari-hari. Seperti yang dikutip dari kanal YouTube Film Dokumenter Ruhi Cenet, pulau ini sama sekali tidak memiliki sistem pembuangan limbah yang memadai. 

Aktivitas domestik seperti mandi dan mencuci beras bahkan bisa berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar, hingga membuat rumah dan jalanan tidak dapat digunakan dengan nyaman.

Dalam hal pengelolaan lingkungan, warga berupaya menjaga agar sampah tidak dibuang sembarangan ke laut serta mengelola kebutuhan energi listrik dan ketersediaan air minum bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan fasilitas publik sehari-hari, pulau ini dilengkapi dengan fasilitas serba satu, yaitu satu apotek, satu gereja, satu klinik, satu hotel, satu restoran, dan satu pasar.

Kendati demikian, kurangnya layanan kesehatan modern di pulau ini menimbulkan risiko yang sangat besar ketika terjadi situasi darurat medis.

Namun secara kontradiktif, rata-rata angka harapan hidup warga di pulau ini tergolong cukup tinggi, yakni mencapai 80 hingga 90 tahun.

Di sektor sosial dan pendidikan, tantangan pertumbuhan penduduk juga terlihat sangat menonjol. Tidak adanya program Keluarga Berencana (KB) membuat populasi warga terus bertambah dengan cepat, di mana setiap keluarga rata-rata memiliki 2 hingga 5 orang anak.

Pernikahan usia muda kerap terjadi, di mana rata-rata perempuan berusia 15 tahun sudah memiliki anak pertama. Sementara itu, untuk penunjang pendidikan dasar, pulau ini menampung 240 siswa yang diampu oleh 12 orang guru.

Setelah menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar, anak-anak di pulau tersebut dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Pulau Terpadat pulau padat pemukiman