Solusi Ketahanan Pangan, Kelompok Tani Swokaton Sulap Galon Bekas Jadi Sawah Mini

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:00 WIB
Penampakan tanaman padi dalam wadah galon bekas. (Tangkapan layar Youtube/ CapCapung)
Penampakan tanaman padi dalam wadah galon bekas. (Tangkapan layar Youtube/ CapCapung)

RADARTUBAN - Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan kini tidak lagi menjadi penghalang utama bagi masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan mandiri. 

Kelompok Tani Swokaton di Wirobrajan, Kota Yogyakarta, membuktikannya melalui inovasi budidaya tanaman padi varietas Inpari 32 serta aneka komoditas pangan dengan memanfaatkan media wadah galon bekas di area pekarangan sempit.

Inovasi Padi Galon dan Sistem Hemat 

Inovasi perkotaan ini mengandalkan teknik Tanam Benih Langsung (Tabela) tanpa melalui proses penyemaian yang memakan waktu dan rumit. 

Melalui metode ini, satu butir benih yang ditanam dalam satu galon mampu tumbuh optimal hingga menghasilkan 30 hingga 40 anakan padi produktif. 

Baca Juga: Bisnis Nanas Jumbo Tanpa Duri di Galon Bekas, Jamaluddin Panen Nanas Jumbo 7 Kg Beromzet Menggiurkan

Selain praktis, penggunaan media galon bekas ini sangat hemat air karena hanya membutuhkan kondisi media tanah yang lembap tanpa perlu digenangi air secara berlebihan. 

Terobosan ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang lahan persawahan konvensional dapat diatasi dengan kreativitas masyarakat.

"Sekarang itu apa-apa serba mahal, intinya kita itu harus kreatif dan inovatif supaya bisa makan," tegas Sagyo, Penyuluh Pertanian dari Kementerian Pertanian yang secara aktif mendampingi Kelompok Tani Swokaton. 

Dia menegaskan, warga kota tetap memiliki peluang besar memproduksi pangan mandiri tanpa tergantung pada pasokan pasar luar daerah.

Sistem Pertanian yang Terpadu

Integrasi sistem pertanian perkotaan terpadu (integrated farming) turut diterapkan secara maksimal di kawasan tersebut. Mereka memanfaatkan kolam budidaya ikan lele dalam tong yang ditaruh di sekitar lokasi pertanian galon.

Air limbah dari kolam lele tersebut kemudian dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik cair yang sangat kaya nutrisi. Pupuk ramah lingkungan ini secara rutin disiramkan pada tanaman padi dan aneka sayuran untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.

Guna memaksimalkan ruang lahan yang serba terbatas, pekarangan dan dinding pemukiman disulap menjadi area tanam produktif. 

Warga menerapkan teknik wall planter dan sistem tumpangsari untuk memunculkan ruang hijau baru di pemukiman padat.

Berbagai jenis komoditas kebutuhan dapur seperti cabai, bawang merah, tomat, terong, hingga kembang kol berhasil ditanam dengan baik.

Seluruh tanaman tersebut dibudidayakan secara organik penuh tanpa menyentuh zat pestisida kimia yang berbahaya.

Pendekatan organik ini menjadi momentum tepat bagi warga dalam menekan biaya pengeluaran rumah tangga di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok saat ini. 

Hasil panen sayuran dan beras dari galon dapat langsung dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga harian.

Sarana Edukasi Terbuka

Tak sekadar menjadi penyedia kebutuhan pangan keluarga, kebun perkotaan ini difungsikan sebagai sarana edukasi terbuka. 

Keberadaan lahan tanam ini sangat bermanfaat bagi generasi muda kota yang selama ini jarang melihat langsung bentuk fisik tanaman padi. 

Melalui kebun edukasi ini, anak-anak dan para remaja dapat mempelajari proses panjang asal-usul beras yang mereka konsumsi setiap hari. 

Gerakan ini secara bertahap menumbuhkan kepedulian lingkungan dan ketahanan pangan sejak dini di tingkat akar rumput. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kelompok tani swokaton pangan mandiri ketahanan pangan pertanian