Sukses Budidaya Tembakau Rembang, dari Lahan Kering Sampai Hidupkan UMKM Desa

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:00 WIB
Potret tanaman tembakau yang menjadi pilar ekonomi warga Rembang. (Tangkapan Layar YouTube)
Potret tanaman tembakau yang menjadi pilar ekonomi warga Rembang. (Tangkapan Layar YouTube)

RADARTUBAN – Sektor pertanian Kabupaten Rembang mencatatkan lompatan ekonomi signifikan lewat keberhasilan budidaya tembakau di lahan-lahan kering yang dulunya terbengkalai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Rembang kini melesat menjadi daerah penghasil tembakau terbesar di Jawa Tengah dengan luas areal tanam mencapai sekitar 6.200 hektar dan angka produksi hingga 10.100 ton.

Capaian tersebut menunjukkan lonjakan eksponensial jika dibandingkan kondisi tahun 2010 lalu yang hanya mencatatkan areal tanam seluas 130 hektar. 

Transformasi pesat ini menjadi pilar utama penggerak roda perekonomian desa sekaligus solusi atas permasalahan lahan pertanian yang dulunya sering mangkrak dan terbengkalai saat musim kemarau panjang.

Baca Juga: Solusi Ketahanan Pangan, Kelompok Tani Swokaton Sulap Galon Bekas Jadi Sawah Mini

Keberhasilan peralihan fungsi lahan kering di wilayah pesisir Jawa Tengah tersebut dikupas secara komprehensif lewat liputan kanal YouTube Sepulang Sekolah. 

Sebelum komoditas tembakau berkembang pesat, minimnya ketersediaan air serta ketidakpastian hasil panen memicu keterbatasan ekonomi warga.

Kondisi geografis yang sulit tersebut memaksa tak sedikit warga desa memilih meninggalkan kampung halaman. 

Mereka merantau ke kota-kota besar demi mencari penghidupan sebagai buruh kasar hingga penarik becak.

Pola Kemitraan Jadi Kunci Modernisasi Pertanian Desa

Peta perekonomian desa mulai bergeser secara fundamental sejak bergulirnya program kemitraan petani tembakau yang diinisiasi oleh mitra pemasok industri, salah satunya PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.

Melalui sistem kemitraan ini, petani mendapat bimbingan teknis secara bertahap, mulai dari proses pembibitan, pengolahan tanah, metode pemupukan, penerapan modernisasi alat pertanian, hingga kepastian penyerapan hasil panen dengan harga bersaing.

Salah satu pionir petani tembakau lokal, Pak Parno, mengungkapkan bahwa hadirnya pola kemitraan ini memberikan ketenangan bagi para petani karena pasar penyerapan hasil panen sudah terjamin.

"Dampak positifnya tak hanya dirasakan oleh para pemilik lahan, tetapi juga menyerap banyak buruh tani lokal serta menekan angka pengangguran dan perantauan di wilayah tersebut," ungkap Pak Parno.

Hadirnya lapangan kerja baru di sektor agribisnis ini terbukti ampuh menahan laju migrasi penduduk desa ke kota-kota besar.

Dampak Multiplier Effect pada Ekosistem UMKM

Dosen serta pakar ekonomi lokal menilai model kemitraan terintegrasi ini menciptakan ekosistem gotong-royong ekonomi.

Selain meningkatkan pendapatan rumah tangga petani dan membuka kesempatan kerja di desa, perputaran uang dari panen tembakau juga turut menghidupkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang pasar di sekitar wilayah Rembang.

Ekosistem ekonomi yang saling menguatkan ini menjadi bukti nyata bahwa pendampingan dan pemberdayaan berbasis kemitraan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat serta mengokohkan kemandirian ekonomi desa. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
tembakau jawa tengah rembang petani