RADARTUBAN - Jerman kini dikenal sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan politik terbesar di Eropa.
Namun, sebelum berdiri sebagai negara bangsa yang bersatu, wilayah Jerman selama ratusan tahun terpecah menjadi ratusan kerajaan kecil, keuskupan, dan kadipaten independen yang memiliki tatanan politik serta militer masing-masing.
Dilansir dari kanal YouTube Sepulang Sekolah, awal dari fragmentasi ini berakar sejak pembagian Kerajaan Frank pascamangkatnya Kaisar Charlemagne dan putranya, Louis I.
Pembagian wilayah tersebut melahirkan Francia Timur, yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Kekaisaran Romawi Suci (Holy Roman Empire) pada tahun 962 di bawah kepemimpinan Otto I.
Baca Juga: Krisis Hunian di Kota Berlin Jerman Paksa Pekerja Berpenghasilan Tetap Jadi Tunawisma
Meskipun mengusung nama besar, kekaisaran ini dikenal sangat longgar dan tidak terdesentralisasi, di mana para penguasa lokal memegang kendali penuh atas wilayahnya sendiri.
Di dalam dinamika kekaisaran tersebut, dua entitas politik utama muncul sebagai rival terkuat, yakni Kekaisaran Austria yang dipimpin oleh Dinasti Habsburg dan Kerajaan Prusia yang terkenal dengan kekuatan serta disiplin militernya.
Runtuhnya Kekaisaran Romawi Suci akibat invasi pasukan Prancis di bawah Napoleon Bonaparte pada 1806 kemudian memicu terbentuknya Konfederasi Jerman dan membangkitkan benih-benih nasionalisme di kalangan masyarakat berbahasa Jerman.
Arah penyatuan Jerman menemukan titik balik saat Otto von Bismarck diangkat menjadi Perdana Menteri Prusia oleh Raja Wilhelm I pada tahun 1862.
Bismarck menerapkan prinsip politik realitis (realpolitik) serta doktrin terkenal 'Darah dan Besi' (Blut und Eisen), yang meyakini bahwa penyatuan Jerman hanya dapat dicapai melalui tindakan militer yang tegas dan diplomasi strategis, bukan sekadar negosiasi.
Melalui serangkaian strategi politik dan militer yang terukur, Prusia terlebih dahulu memenangkan Perang Denmark (1864) untuk menguasai wilayah Schleswig dan Holstein.
Kemenangan tersebut berlanjut pada Perang Prusia-Austria (1866) yang berlangsung selama tujuh minggu, yang berujung pada dibubarkannya Konfederasi Jerman dan terbentuknya Konfederasi Jerman Utara di bawah dominasi Prusia, tanpa keterlibatan Austria.
Puncak dari proses unifikasi ini terjadi pasca-Perang Prancis-Prusia (1870–1871). Lewat manuver diplomasi dan pengeditan dokumen Ems Dispatch, Bismarck berhasil memprovokasi Prancis untuk menyatakan perang terlebih dahulu, yang kemudian menyatukan kerajaan-kerajaan Jerman bagian selatan dan utara untuk bertempur bersama melawan musuh bersama.
Narator kanal Sepulang Sekolah menyoroti betapa cerdik sekaligus ekstremnya strategi geopolitik yang dilancarkan oleh Bismarck demi mewujudkan ambisi unifikasi tersebut.
"Gara-gara kelakuan-kelakuan Bismarck tadi, makanya gua suka nyebutnya Jerman adalah negara yang terbentuk karena kelakuan 'busuk' tertingginya petingginya," ujar narator kanal YouTube Sepulang Sekolah dalam unggahan videonya.
Baca Juga: Perjalanan Evan Haidar di Jerman, dari Kerja di Burger King hingga Menembus Tesla
Kekalahan telak ini menjadi pukulan berat bagi Prancis, terlebih pemimpin mereka, Napoleon III, berhasil ditangkap oleh pasukan Prusia.
Deklarasi berdirinya Kekaisaran Jerman yang dilakukan langsung di pusat pemerintahan musuh semakin menegaskan lahirnya kekuatan raksasa baru di benua Eropa.
Setelah meraih kemenangan telak atas Prancis, para pangeran dan penguasa negara-negara Jerman secara resmi memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Jerman (Deutsches Kaiserreich) di Istana Versailles, Prancis, pada 18 Januari 1871, serta menobatkan Raja Wilhelm I sebagai Kaisar Jerman pertama.
Peristiwa bersejarah ini menjadi fondasi awal berdirinya negara Jerman modern yang bersatu di kawasan Eropa.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni