Sistem AI YouTube Error? Gelombang Pemblokiran Massal Resahkan Konten Kreator

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:06 WIB
Kendala pelanggaran hak cipta yang kerap dihadapi oleh para kreator konten digital. (Pinterest)
Kendala pelanggaran hak cipta yang kerap dihadapi oleh para kreator konten digital. (Pinterest)

RADARTUBAN – Gelombang pemblokiran massal konten hingga ancaman penghapusan saluran secara massal tengah meresahkan komunitas kreator konten anime di YouTube.

Sanksi sepihak ini dipicu oleh akumulasi teguran hak cipta (copyright strike) berskala besar yang diduga akibat malafungsi sistem pemindaian kecerdasan buatan (AI) milik platform tersebut.

Sejumlah kreator luar negeri dilaporkan menerima puluhan hingga lebih dari seratus teguran dalam waktu singkat.

Padahal, ketentuan YouTube menyebutkan bahwa akumulasi tiga kali teguran hak cipta dapat berujung pada penutupan saluran secara permanen.

Baca Juga: Kecanduan Konten Cepat Ancam Generasi Muda, Mampukah Capai Visi Indonesia Emas 2045?

Hanya Ulasan Verbal Ikut Kena Sanksi

Salah satu dampak terparah dialami kreator ulasan anime kenamaan, Nicholas Light. Dia melaporkan puluhan videonya ditutup beruntun oleh sistem pemindaian otomatis berteknologi AI.

Sistem ini diduga bekerja kaku dengan mendeteksi kata kunci tertentu, seperti kata "Bleach" lalu melabelinya sebagai pelanggaran, meski video tersebut hanya berisi ulasan verbal, ulasan episode (filler), atau diskusi tanpa menyertakan klip video.

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari kreator konten Eno Bening. Lewat unggahan di kanal YouTube pribadinya, Eno menilai tindakan otomatisasi tersebut sudah keluar jalur dan merugikan konten yang seharusnya dilindungi batasan penggunaan wajar (fair use).

"Masa ngomongin doang kena, masa masukin nama title doang kena, masa ngereact video orang lain ngomongin anime kena. Enggak make sense," tegas Eno Bening.

Dia menyoroti kejanggalan fatal dalam sistem penyaringan YouTube saat ini. Menurutnya, konten analisis filosofis, opini, hingga diskusi verbal tanpa hak cipta fisik ikut terhapus dalam pemblokiran massal tersebut.

Celah Sistem Otomatis dan Serangan Pihak Ketiga

Maraknya kasus ini diduga kuat bersumber dari dua hal, yakni celah sistem yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, serta minimnya keterlibatan tim verifikasi manusia dari pihak YouTube.

Perusahaan pihak ketiga sering kali mengajukan klaim kepemilikan materi, dan sistem otomatis YouTube cenderung langsung meluluskan klaim tersebut.

Dampaknya, beban pembuktian secara sepihak dialihkan penuh kepada kreator melalui prosedur sanggahan dan proses hukum yang rumit.

Eskalasi masalah yang kian masif seiring penggunaan AI ini tak hanya mengancam mata pencaharian para pekerja kreatif internet, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem bisnis platform.

Evaluasi menyeluruh terhadap regulasi hak cipta dan penghentian ketergantungan penuh pada pemindaian AI dinilai mendesak.

Kehadiran tim peninjau manusia menjadi kunci untuk memahami konteks karya, menjamin keadilan, serta melindungi kebebasan berpendapat di ruang digital. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
pemblokiran massal youtube konten kreator hak cipta