Menguak Mitos Codex Gigas, Naskah Sering Dijuluki Sebagai Alkitab Iblis

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 16:15 WIB
Bentuk fisik manuskrip raksasa Codex Gigas buatan abad ke-13 yang memuat teks Alkitab serta berbagai risalah pengetahuan kuno. (Pinterest)
Bentuk fisik manuskrip raksasa Codex Gigas buatan abad ke-13 yang memuat teks Alkitab serta berbagai risalah pengetahuan kuno. (Pinterest)

RADARTUBAN – Mitos penulisan Codex Gigas atau "Alkitab Iblis" dalam waktu satu malam akibat perjanjian gaib seorang biarawan akhirnya terpatahkan oleh penelitian paleografi dan kodikologi modern.

Naskah alkitab iblis kuno berukuran raksasa berbobot 75 kilogram dari abad ke-13 tersebut terbukti secara historis ditulis oleh satu orang juru tulis dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun.

Analisis ilmiah mengonfirmasi konsistensi gaya huruf dalam alkitab iblis, tekanan pena, serta formula tinta yang identik dari awal hingga akhir naskah. 

Baca Juga: Jejak Bahasa Sanskerta di Nusantara: Bahasa Kuno Pembentuk Sejarah dan Budaya Indonesia

Habiskan 160 Kulit Hewan Hingga Mitos Perjanjian Iblis

Pembuatannya diperkirakan menghabiskan kulit dari sekitar 160 ekor keledai atau anak sapi untuk menghasilkan 310 lembar perkamen berukuran tinggi 90 sentimeter, lebar 50 sentimeter, dan tebal 22 sentimeter.

Naskah alkitab iblis ini dirancang di biara Ordo Benediktin di Podlažice, wilayah Bohemia (kini Republik Ceko) antara tahun 1204 hingga 1230 sebagai monumen pengetahuan visual dan bentuk pernyataan spiritual biara.

Dikutip dari kanal YouTube Kamar Film, julukan kontroversial "Alkitab Iblis" beserta Mitos Faustian lahir akibat masyarakat modern dan abad pertengahan akhir yang mencabut gambar iblis dari konteks teologis aslinya.

"Mitos paling terkenal menceritakan seorang biarawan melanggar sumpah suci dan terancam hukuman dikubur hidup-hidup," ungkap narasi dalam tayangan video itu.

"Demi menyelamatkan nyawanya, dia berjanji menyelesaikan buku yang merangkum seluruh pengetahuan manusia dalam semalam. Dalam keputusasaan, dia memanggil iblis untuk membantu menyelesaikan naskah tersebut dengan imbalan jiwanya," lanjutnya.

Makna Nama Hermanus Inclusus dan Gambar Iblis

Dalam daftar martirologi naskah, tercatat nama Hermanus Inclusus. Istilah inclusus kerap disalahartikan sebagai hukuman dikubur hidup-hidup. 

Padahal, merujuk pada recluse, biarawan yang secara sukarela mengurung diri di sel biara demi mendedikasikan hidup untuk berdoa dan menyalin naskah suci.

Selain itu, ilustrasi iblis berkulit hijau dengan dua lidah bercabang pada halaman 577 dalam codex gigas berfungsi teologis sebagai memento mori atau peringatan moral. 

Gambar tersebut sengaja ditempatkan berhadapan langsung dengan ilustrasi Kota Surga (Celestial City) pada halaman 576 untuk memperlihatkan kontras antara jalan keselamatan ilahi dan kebinasaan akibat dosa.

Codex Gigas tak sekadar memuat Perjanjian Lama dan Baru, melainkan berfungsi sebagai ensiklopedia abad pertengahan. 

Di dalamnya terkumpul referensi penting seperti Etymologiae karya Isidorus dari Sevilla, sejarah Yahudi karya Flavius Josephus, Chronicle of the Bohemians karya Cosmas dari Praha, hingga risalah pengobatan, kalender, dan panduan eksorsisme.

Perjalanan Sejarah dan Musibah Kebakaran

Perjalanan fisik naskah ini diwarnai pergeseran kekuasaan. 

Dari Bohemia, naskah ini sempat diboyong Kaisar Rudolf II ke Istana Praha, sebelum akhirnya dijarah pasukan Swedia pada Perang 30 Tahun tahun 1648 dan disimpan di Perpustakaan Kerajaan Swedia di Stockholm.

Pada 7 Mei 1697, kebakaran dahsyat melahap Istana Tre Kronor tempat naskah tersebut disimpan. 

Demi menyelamatkannya dari api, petugas perpustakaan terpaksa melemparkan buku raksasa tersebut keluar dari jendela lantai atas.

Benturan keras dengan tanah menyebabkan sampul kayu berlapis kulitnya rusak parah serta beberapa lembar perkamen hilang, namun isi utama naskah berhasil selamat. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
alkitab iblis codex gigas abad pertengahan naskah