RADARTUBAN - Pemahaman manusia mengenai cara kerja alam semesta selama berabad-abad didominasi oleh teori fisika klasik.
Sejak ditemukannya hukum gravitasi dan gerak, masyarakat percaya bahwa setiap pergerakan benda di bumi hingga orbit planet di tata surya dapat diprediksi dengan pasti apabila kondisi awalnya diketahui.
Namun, keyakinan tersebut runtuh ketika para ilmuwan mulai meneliti dunia mikroskopis atom pada awal abad ke-20.
Perilaku partikel-partikel terkecil penyusun alam semesta ini ternyata beroperasi di luar logika sains konvensional, yang memicu lahirnya era baru bernama fisika kuantum.
Secara historis, lahirnya fisika kuantum dipicu oleh krisis fisika klasik yang gagal menjelaskan fenomena radiasi benda hitam. Teori lama memprediksi bahwa sebuah benda dapat memancarkan energi tak terhingga, yang tidak sesuai dengan realita di lapangan.
Baca Juga: Orion Mendarat Mulus, Artemis II Tutup Misi Bersejarah 10 Hari di Orbit Bulan
Titik terang baru muncul ketika fisikawan asal Jerman, Max Planck, mengemukakan gagasan bahwa energi tidak dipancarkan sebagai gelombang yang terus-menerus, melainkan dalam bentuk paket-paket terkecil yang disebut Quanta.
"Om Planck nganggap energi punya paket terkecil yakni Quanta energi ternyata putus-putus alias cuma bisa ada dalam jumlah-jumlah tertentu. Ibaratnya kayak awalnya kita bisa bebas beli telur segimana aja, sekarang kita cuma bisa beli berlusinan," ujar narator dalam unggahan video di kanal YouTube Kok Bisa?.
"Om Planck nganggap energi punya paket terkecil yakni quanta... energi ternyata putus-putus alias cuma bisa ada dalam jumlah-jumlah tertentu. Ibaratnya kayak awalnya kita bisa bebas beli telur segimana aja, sekarang kita cuma bisa beli berlusinan,"
Penemuan tersebut kemudian membuka pintu bagi fenomena-fenomena aneh di tingkat kuantum yang meruntuhkan kepastian fisika konvensional.
Salah satunya adalah prinsip superposisi, di mana partikel kuantum dapat berada dalam beberapa kondisi atau lokasi sekaligus secara bersamaan.
Uniknya, kondisi superposisi ini akan hilang dan terpaksa "memilih" satu kondisi pasti secara acak begitu manusia melakukan pengamatan.
Selain itu, dunia kuantum mengenalkan konsep Quantum Tunneling atau terowongan kuantum, yaitu kemampuan partikel menembus dinding penghalang padat meskipun energinya secara logika fisika klasik tidak mencukupi.
Fenomena misterius lainnya adalah keterikatan kuantum (Quantum Entanglement), di mana dua partikel yang saling terhubung dapat memengaruhi satu sama lain secara instan meskipun terpisah jarak antargalaksi.
"Semakin akurat kita tahu lokasi partikel, semakin kita enggak bisa tahu seberapa cepat dia bergerak, dan sebaliknya... Alam semesta di level paling dasar itu berarti enggak pasti," ungkap narator YouTube Kok Bisa? saat menjelaskan prinsip ketidakpastian.
Pada akhirnya, lahirnya fisika kuantum membuktikan bahwa batas pengetahuan sains akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Rasa ragu dan keberanian para ilmuwan untuk mempertanyakan hukum alam terdahulu justru menjadi pendorong utama terciptanya inovasi teknologi modern yang digunakan manusia saat ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni