Vokalis Utama MK9 Kanaya Whu Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun Usai Berjuang Melawan Kanker

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 17:31 WIB
Kanaya Whu dalam salah satu penampilannya sebagai musisi. (jawapos.com)
Kanaya Whu dalam salah satu penampilannya sebagai musisi. (jawapos.com)

RADARTUBAN – Panggung musik tradisional Sunda dan seni kebudayaan Jawa Barat diselimuti duka mendalam usai vokalis MK9 atau Emka 9 Kanaya Whu meninggal dunia pada usia 35 tahun usai menjalani perjuangan melawan penyakit kanker yang dideritanya.

Kanaya Whu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung. Sebelum dinyatakan meninggal dunia, penyanyi kelahiran 1991 ini sempat mendapatkan penanganan serta perawatan medis secara intensif di fasilitas kesehatan tersebut.

Baca Juga: Miss Earth Indonesia 2025 Putri Juficha Meninggal Dunia Tepat di Hari Ulang Tahun, Apa Penyebabnya?

Kabar duka mengenai wafatnya Kanaya Whu ini disampaikan secara langsung oleh Dedi Mulyadi pada Minggu (13/9).

Usai penanganan medis di rumah sakit selesai, jenazah almarhumah dipulangkan oleh pihak keluarga ke kampung halamannya di Kabupaten Tasikmalaya untuk menjalani prosesi pemakaman.

Berpulangnya Kanaya di usia yang masih sangat produktif menyisakan rasa kehilangan yang mendalam bagi para penggemar, kawan sejawat, serta kalangan pekerja seni di tanah Pasundan.

Menghidupkan Panggung Kebudayaan Rakyat

Sosok Kanaya Whu dikenal sangat melekat dengan panggung-panggung kebudayaan rakyat di Jawa Barat.

Melalui lantunan suaranya yang khas dan pembawaannya yang hangat di atas panggung, Kanaya menjadi salah satu figur penting yang kerap menghidupkan suasana dalam berbagai kegiatan sosial maupun pentas seni kebudayaan.

Salah satu kiprahnya yang paling berkesan adalah keikutsertaannya secara aktif dalam sejumlah agenda kegiatan Dedi Mulyadi, termasuk pada Abdi Nagri Nganjang Ka Warga.

Lewat program kebudayaan yang mengelilingi berbagai pelosok daerah di Jawa Barat tersebut, Kanaya hadir menyapa langsung masyarakat melalui karya-karya musik etnik.

Gigih Menembus Batas Bahasa

Walau lahir di Tasikmalaya pada 1991 dan memiliki darah keturunan Sunda dari garis keluarganya, masa kecil hingga remaja Kanaya justru dihabiskan di Jakarta. Dia menempuh dan menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas di kawasan ibu kota.

Tumbuh besar di lingkungan perkotaan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi sehari-hari sempat menjadi tantangan tersendiri bagi Kanaya saat mulai mendalami musik daerah.

Pada awal kariernya, dia sempat menghadapi keterbatasan teknis ketika harus membawakan lagu-lagu berlaras Sunda.

Namun, hambatan bahasa dan dinamika budaya tersebut tidak memadamkan kegigihan Kanaya. Keberhasilannya menembus batas linguistik dan teknik vokal tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan profesionalnya.

Namanya melambung tinggi di belantika musik lokal saat dipercaya menjadi penampil utama bersama grup MK9.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, Kanaya bertransformasi menjadi salah satu penyanyi etnik paling ikonis, khususnya dalam membawakan deretan karya-karya musik ciptaan Dedi Mulyadi.

Bagi Kanaya, menyanyikan deretan karya tersebut tidak sebatas mengandalkan olah vokal semata. Dia meyakini tiap lirik yang dirangkai Dedi Mulyadi selalu menyimpan kisah mendalam dan pesan moral bagi pendengarnya.

“Setiap lagu yang dibuat Bapak (Dedi Mulyadi) itu pasti ada cerita,” kata Kanaya dalam sebuah kesempatan.

Kepergian sosoknya kini meninggalkan rekam jejak dedikasi seni yang berharga bagi perkembangan musik tradisional di Jawa Barat. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kanaya whu MK 9 meninggal dunia kanker Dedi Mulyadi