Bukan Berawal dari Sistem Barter, Ternyata Ini Alasan Penguasa Zaman Kuno Menciptakan Uang

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:59 WIB
Uang kertas dan perputaran sistem ekonomi modern. (Magnific)
Uang kertas dan perputaran sistem ekonomi modern. (Magnific)

RADARTUBAN – Narasi sejarah yang menyebutkan uang berasal dari perkembangan sistem barter ternyata keliru.

Temuan historis membuktikan bahwa uang pertama kali lahir di Mesopotamia sebagai alat administrasi penguasa kuno untuk mencatat hasil panen, upeti, dan utang masyarakat.

Bukti paling awal penggunaan sistem penilai ini ditemukan pada peradaban Sumeria.

Saat itu, masyarakat setempat menggunakan satuan nilai bernama shekel yang dipahat pada lempengan tanah liat sebagai bukti transaksi dan kewajiban ekonomi.

Baca Juga: Bagaimana Bahasa Manusia Terbentuk? Ini Sejarah Evolusi dan Teori Kemunculannya

Alat Administrasi Penguasa Kuno

Konsep asal-usul uang ini dibahas secara lugas melalui tayangan edukasi di kanal YouTube Kok Bisa?. Narasi dalam video tersebut menegaskan bahwa kehadiran uang dipicu oleh kebutuhan praktis para penguasa zaman dahulu.

"Uang itu bukan muncul dari sistem barter yang lama-lama berubah kayak yang sering diceritain di buku-buku sejarah. Uang muncul karena para penguasa butuh cara yang mudah buat ngatur dan nagih upeti," bunyi narasi dalam video tersebut.

Seiring berjalannya waktu, fungsi uang terus berkembang pesat.

Memasuki era feodalisme di benua Eropa, penguasaan atas lahan pertanian dan penumpukan modal mulai bergeser menjadi fondasi utama kekuatan ekonomi.

Dampak Privatisasi Lahan dan Revolusi Industri

Gelombang perubahan besar berikutnya terjadi saat berlangsung fenomena enclosure atau privatisasi lahan pertanian.

Kebijakan ini memaksa banyak warga kehilangan akses mandiri terhadap tanah, yang kemudian mendorong mereka menggantungkan hidup sebagai pekerja berupah.

Kondisi sosial tersebut menjadi salah satu pemantik meletusnya Revolusi Industri.

Sistem produksi barang yang tadinya dikerjakan secara tradisional berubah total menjadi industri berskala besar yang berorientasi pada efisiensi kerja serta pengerukan keuntungan.

Transisi ini memicu perdebatan panjang terkait format sistem ekonomi yang ideal. Adam Smith mempopulerkan paham kapitalisme yang mengagungkan kebebasan pasar dan kepemilikan pribadi.

Di sisi lain, Karl Marx melontarkan kritik tajam karena kapitalisme dianggap memicu jurang kesenjangan antara pemilik modal dan kaum buruh.

Ketimpangan Sosial dan Evaluasi Sistem Ekonomi

Walaupun ajaran komunisme sempat diterapkan di beberapa negara sepanjang abad ke-20, sistem tersebut runtuh akibat pemusatan kekuasaan pada segelintir elit politik.

Alhasil, kapitalisme tetap menjadi sistem ekonomi paling dominan di tingkat global hingga hari ini.

Terkait persaingan pasar bebas, narator video menggambarkan bagaimana ketimpangan modal dapat merugikan pelaku ekonomi kecil.

"Kalau dalam sistem ini kita itu bebas jualan di pasar, tapi tetangga sebelah pakai mesin canggih. Petani kaya makin kaya dan ladangnya makin luas, tapi kita terpaksa jual tanah dan jadi buruh mereka yang diupah segitu-gitu aja," jelasnya.

Pertumbuhan ekonomi modern yang bertumpu pada tingkat konsumsi dan fasilitas kredit kini memunculkan persoalan baru, mulai dari ketimpangan kesejahteraan hingga kerusakan lingkungan.

Pembahasan ini menekankan pentingnya memandang uang dan sistem ekonomi sebagai produk kesepakatan sosial yang fleksibel, sehingga dapat terus dievaluasi demi mewujudkan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
alat administrasi kapitalisme ekonomi barter uang