RADARTUBAN – Hilangnya Perpustakaan Alexandria yang menjadi simbol kejayaan ilmu pengetahuan dunia kuno ternyata tidak disebabkan oleh satu peristiwa pembakaran tunggal.
Temuan historis menunjukkan bahwa pusat keilmuan terbesar di pesisir Mesir tersebut lenyap akibat serangkaian konflik militer, bencana alam, hingga penghentian anggaran pemeliharaan secara perlahan selama berabad-abad.
Lembaga yang digagas oleh Dinasti Ptolemeus pada abad ke-3 Sebelum Masehi tersebut awalnya dibangun untuk mengumpulkan seluruh pengetahuan manusia.
Sebagai pusat penelitian negara, Alexandria mendanai para ilmuwan dan bahkan menerapkan kebijakan menyita dokumen dari setiap kapal yang berlabuh untuk disalin sebelum dikembalikan.
Rangkaian Serangan dan Bencana Alam
Upaya melacak dalang utama kehancuran perpustakaan ini menjadi ulasan mendalam dalam tayangan edukasi sejarah di kanal YouTube Nils.
Narator menjelaskan bahwa lembaga tersebut menghadapi ancaman bertubi-tubi dari berbagai pihak dan peristiwa alam.
"Jika Perpustakaan Alexandria adalah korban pembunuhan dan setiap sejarawan yang menunjuk tersangka harus mengajukan kasusnya di pengadilan, persidangan ini akan jadi bencana mutlak karena tidak hanya ada satu pembunuh di sini," tutur narator video tersebut.
Catatan sejarah merekam insiden pembakaran kapal oleh pasukan Julius Caesar pada 48 SM, pemotongan dana operasional oleh Kaisar Caracalla, hingga kecamuk konflik militer di bawah kepemimpinan Kaisar Aurelian.
Tak berhenti di situ, gempa bumi dahsyat yang memicu tsunami di Laut Tengah pada tahun 365 Masehi turut menyapu kawasan pesisir tempat sisa-sisa bangunan dan dokumen berharga berada.
Musuh Tersembunyi: Kelalaian dan Penghentian Anggaran
Meski begitu, sejarawan modern meyakini musuh paling mematikan bagi Perpustakaan Alexandria bukanlah api atau pedang, melainkan kelalaian serta ketiadaan biaya pemeliharaan.
Media papirus yang digunakan saat itu sangat rentan terhadap kelembapan udara pesisir, pembusukan, dan serangan serangga, sehingga membutuhkan proses penyalinan ulang yang memakan dana besar secara berkelanjutan.
Akibat hilangnya jutaan gulungan papirus tersebut, peradaban modern kehilangan karya-karya orisinal berharga.
Di antaranya catatan kalkulasi keliling bumi oleh Eratosthenes, gagasan heliosentrisme Aristarkhos dari Samos, hingga formula matematika tingkat lanjut karya Hipparchus yang baru berhasil ditemukan kembali ribuan tahun kemudian.
Kisah lenyapnya Perpustakaan Alexandria menjadi pelajaran berharga bahwa kehancuran sebuah pusat pengetahuan sering kali tidak terjadi secara dramatis dalam semalam, melainkan melalui pemangkasan anggaran dan ketidakpedulian terhadap pemeliharaan warisan intelektual. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari