Mengapa Negara Beriklim Dingin Sering Diidentikkan Lebih Kaya? Simak Alasannya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:54 WIB
Ilustrasi pemetaan dinamika ekonomi dan pengaruh iklim terhadap kesejahteraan negara. (Tangkapan layar Youtube Kok Bisa)
Ilustrasi pemetaan dinamika ekonomi dan pengaruh iklim terhadap kesejahteraan negara. (Tangkapan layar Youtube Kok Bisa)

RADARTUBAN — Ketika memetakan tingkat kesejahteraan dunia, banyak orang mungkin langsung menyadari satu pola menarik: mayoritas negara maju berada di kawasan beriklim dingin.

Nama-nama besar seperti Jepang, Amerika Serikat, hingga negara-negara Eropa kerap dijadikan contoh bagaimana negara yang rutin mengalami musim salju berhasil mencapai tingkat kemakmuran ekonomi yang tinggi.

Kondisi ini lantas memicu munculnya asumsi dan teori di tengah masyarakat yang menghubungkan antara suhu udara, iklim, dan tingkat kecerdasan atau produktivitas penduduk suatu bangsa.

Tidak sedikit yang menganggap bahwa tantangan alam yang berat di negara dingin memaksa masyarakatnya berpikir lebih keras untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Lebih Besar dari Amazon! Intip Isi Hutan Taiga, Bioma Raksasa Penyelamat Iklim Bumi

Namun, benarkah iklim dingin menjadi kunci utama keberhasilan suatu negara untuk menjadi kaya dan maju?

Pertanyaan tersebut baru-baru ini diulas secara mendalam oleh kanal YouTube Kok Bisa? melalui sebuah pembahasan yang meninjau sudut pandang sejarah, psikologi, geografi, hingga ilmu ekonomi.

Dalam ulasannya, tim Kok Bisa? membongkar asal-usul teori yang mengklaim bahwa iklim dingin menciptakan manusia yang lebih cerdas.

Teori tersebut rupanya banyak mendapat tentangan luas dari para peneliti modern karena dinilai tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan sarat akan bias.

"Dan kalau kita telusurin, teori bahwa negara dingin nyiptain orang-orang yang lebih pintar ternyata diajuin sama seorang psikolog yang terkenal rasis," jelas edukator dalam video tersebut saat memaparkan latar belakang munculnya hipotesis tersebut.

Jika dirunut dari catatan sejarah, peradaban-peradaban besar dunia justru pertama kali lahir dan berkembang pesat di wilayah-wilayah beriklim hangat seperti kawasan Timur Tengah dan Mediterania.

Sains dan ilmu pengetahuan modern bahkan berakar dari karya-karya besar peninggalan masa keemasan di wilayah tropis dan subtropis tersebut.

Lantas, apa yang sebenarnya menentukan sebuah negara bisa menjadi kaya?

Sebagian ilmuwan geografi memandang bahwa iklim mempengaruhi keberagaman sumber daya alam, kesuburan tanah, dan posisi strategis suatu wilayah terhadap pusat peradaban.

Namun, para ekonom modern menilai bahwa faktor geografi bukanlah penentu tunggal.

Kunci utama dari kemakmuran suatu bangsa terletak pada kualitas kelembagaan, sistem tata kelola, dan integritas pemerintahannya.

Kekayaan sumber daya alam tidak akan mampu membawa kesejahteraan jika tidak dikelola dengan baik dan transparan.

Baca Juga: Krisis Iklim Bikin Ular Berbisa Makin Dekat ke Permukiman, Ini Peringatan Peneliti

Hal ini turut ditekankan oleh narator dalam video tersebut saat menyoroti pentingnya peran pengelola negara.

"Ya kalau menurut para ekonom ini, kunci utama negara kaya itu pemerintahan. Kalau punya banyak sumber daya tapi enggak becus ngelolanya, ya enggak bakal jadi maju juga," tegasnya.

Perbandingan nyata dapat dilihat pada dua negara tetangga di Semenanjung Korea. Meskipun berbagi iklim, kondisi geografis, dan akar budaya yang serupa, tingkat kemakmuran masyarakat di kedua negara tersebut sangat bertolak belakang akibat perbedaan sistem pemerintahan yang diterapkan.

Selain faktor internal tata kelola negara, sejarah panjang kolonialisme juga memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi global saat ini. Banyak negara di kawasan tropis mengalami eksploitasi sumber daya secara masif pada masa lalu dan dibebani berbagai kendala finansial pascakemerdekaan yang memperlambat percepatan pembangunan.

Ulasan dari Kok Bisa? memberikan sudut pandang baru bahwa kemakmuran suatu bangsa merupakan hasil kompleks dari interaksi tata kelola pemerintahan yang bersih, kebijakan publik yang tepat, serta latar belakang sejarah yang menyertainya.

Suhu udara dan iklim dingin bukanlah jaminan otomatis bagi suatu negara untuk menjadi kaya. Pada akhirnya, kemajuan ekonomi merupakan buah dari komitmen suatu bangsa dalam mengelola potensi dan sumber daya yang dimilikinya secara optimal. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
iklim dingin eropa musim