RADARTUBAN - Warna ungu menjadi warna paling langka, paling sulit dihasilkan oleh proses evolusi pada tubuh hewan di alam, bahkan melebihi tingkat kelangkaan warna biru.
Kelangkaan tersebut terjadi karena alam tidak memiliki pigmen ungu murni maupun jalur mekanis tunggal yang mudah direplikasi.
Hewan harus mengandalkan kombinasi rekayasa struktur mikroskopis, ilusi visual, guna memancarkan warna violet.
Berdasarkan analisis kanal YouTube Pack Vibes, warna pada tubuh hewan secara umum terbentuk melalui dua mekanisme utama: pigmen serta warna struktural.
Pigmen menyerap sebagian gelombang cahaya, memantulkan sisanya, seperti melanin untuk warna hitam atau cokelat, karotenoid untuk warna kuning hingga merah.
Baca Juga: Mengapa Panduan Warna Pantone Bisa Dibanderol hingga Rp140 Juta? Ini Alasannya
Sementara itu, warna struktural memantulkan cahaya melalui susunan jaringan mikroskopis.
Pada warna biru, evolusi memanipulasi struktur mikroskopis tubuh hewan untuk memantulkan gelombang cahaya tertentu. Namun, untuk menghasilkan warna ungu, dibutuhkan rekayasa biologis yang jauh lebih kompleks.
"Kalau kita mau cari warna yang paling sedikit punya cara andal buat dihasilkan oleh evolusi, kita harus melangkah lebih jauh dari warna biru menuju sudut palet yang cuma bisa dicapai hewan lewat sekumpulan trik biologis yang aneh, yaitu warna ungu," urai narasi dalam video tersebut.
Rekayasa Sisik, Bias Cahaya pada Sayap Kupu-Kupu
Trik biologis tersebut terlihat pada spesies kupu-kupu Purple Emperor. Sayap jantan spesies ini sebenarnya berwarna cokelat, tetapi mampu memancarkan kilau violet kebiruan saat terkena sinar matahari dari sudut tertentu.
Efek kilau ini muncul berkat struktur mikroskopis pada sisik sayap yang membiaskan cahaya, bukan dari keberadaan pigmen ungu.
"Hewan-hewan yang berhasil memancarkan warna ungu atau violet yang cerah sering kali punya permukaan tubuh yang bisa direkayasa secara sangat presisi oleh evolusi, seperti sayap, bulu, sisik, atau cangkang," lanjut narasi tersebut.
Keterbatasan Genetik Mamalia, Ilusi Warna pada Mandril
Sementara itu, kelompok mamalia mengalami keterbatasan genetik lebih besar.
Mamalia hanya bergantung pada sel melanosit penghasil melanin, sehingga variasi warna tubuhnya terbatas pada spektrum hitam, cokelat, merah kecokelatan, hingga kekuningan.
Tidak ada jalur biologis langsung bagi mamalia untuk memproduksi warna biru atau ungu sejati.
Spesies mandril (Mandrillus sphinx) menyiasati keterbatasan ini melalui mekanisme persepsi visual.
Mandril menciptakan ilusi warna ungu dengan menempatkan area kulit berwarna merah terang tepat di samping jaringan kolagen pemantul warna biru.
Saat dilihat dari jarak tertentu, mata manusia memadukan kedua warna tersebut sehingga tampak sebagai warna ungu.
Fenomena ini membuktikan bahwa keberadaan warna ungu pada segelintir spesies hewan bukan sekadar ornamen estetika alami, melainkan hasil adaptasi, rekayasa biologis rumit yang membutuhkan waktu jutaan tahun. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari