Mengenal Muslim Kache dan Hui, Dua Kelompok Komunitas Islam yang Berakar di Tibet

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 15:31 WIB
Potret Masjid Agung Lhasa (Masjid Hebalin) yang menjadi simbol keberagaman dan toleransi. (youtube.com/ VanDjen Media)
Potret Masjid Agung Lhasa (Masjid Hebalin) yang menjadi simbol keberagaman dan toleransi. (youtube.com/ VanDjen Media)

RADARTUBAN – Terkenal dengan lanskap pegunungan bersalju dan tradisi spiritual Buddha, Tibet ternyata menyimpan jejak sejarah panjang kehadiran agama Islam.

Komunitas muslim di wilayah bertajuk "atap dunia" ini telah hidup berdampingan secara harmonis bersama warga lokal selama berabad-abad.

Ulasan sejarah tersebut dibahas oleh kanal YouTube VanDjen Media melalui dokumenter yang membedah awal masuknya Islam ke Tibet.

Baca Juga: Mengintip Sisa Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Spanyol

Agama Islam diperkirakan mulai masuk sekitar abad ke-8 Masehi pada era Kekhalifahan Abbasiyah melalui Jalur Sutra (Silk Road).

"Islam pertama kali masuk ke Tibet sekitar abad ke-8 Masehi. Jalur sutra yang menghubungkan dunia Islam dengan Tiongkok menjadi salah satu pintu masuk utama bagi Islam ke wilayah ini," ungkap narator video tersebut.

Kehadiran Komunitas Muslim Kache dan Hui

Dalam perkembangannya, komunitas muslim di Tibet terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Muslim Kache dan Muslim Hui.

Komunitas Muslim Kache merupakan keturunan pedagang asal Kashmir dan Asia Tengah yang sangat menyatu dengan budaya lokal.

Mereka fasih berbahasa Tibet serta terbiasa mengenakan pakaian tradisional setempat. Sementara itu, Muslim Hui merupakan etnis pendatang dari Tiongkok yang tetap mempertahankan tradisi dan bahasa asalnya.

Potret Inklusivitas dan Keunikan Masjid Agung Lhasa

Toleransi beragama di Tibet juga tecermin melalui sistem pendidikan yang inklusif. Sekolah-sekolah di wilayah tersebut terbuka bagi seluruh kalangan.

Bahkan, para siswa muslim kerap diajak mengunjungi kuil dan sekolah Buddha dalam kegiatan edukasi guna memupuk rasa saling menghormati.

Simbol keharmonisan paling ikonik ditunjukkan oleh keberadaan Masjid Agung Lhasa atau Masjid Hebalin yang berdiri di jantung Kota Lhasa.

Berdiri sejak 1716 pada masa Dinasti Qing, tempat ibadah ini memegang predikat sebagai salah satu masjid tertinggi di dunia.

Secara arsitektural, masjid seluas 2.600 meter persegi ini memadukan keindahan seni ukir tradisional Tibet, ornamentasi khas Hui, serta struktur lengkungan Islam.

Tak hanya menjadi pusat keagamaan, kawasan di sekitar Masjid Agung Lhasa kini berkembang menjadi pusat kuliner halal khas Tibet.

Pengunjung dapat menikmati aneka hidangan lokal seperti momo (pangsit khas Tibet), thentuk (mie kuah hangat), hingga olahan daging yak.

Keberadaan masjid dan komunitas muslim ini menjadi bukti nyata tumbuhnya nilai-nilai kedamaian di puncak dunia. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Masjid Agung Lhasa islam tibet muslim