Peta Dunia Selama Ini Salah? Ini Alasan Ukuran Afrika Dikecilkan dan Wujud Peta Barunya

Nadia Aulia • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 17:11 WIB
Tampilan peta Mercator dan Equal Earth yang memperlihatkan perbedaan ukuran Afrika dan Greenland secara lebih proporsional. (youtube.com/ Sepulang Sekolah)
Tampilan peta Mercator dan Equal Earth yang memperlihatkan perbedaan ukuran Afrika dan Greenland secara lebih proporsional. (youtube.com/ Sepulang Sekolah)

RADARTUBAN – Selama bertahun-tahun, peta dunia yang terpampang di ruang kelas, buku pelajaran, hingga media arus utama membuat Benua Afrika tampak jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya.

Kini, cara dunia memandang peta mulai mengalami pergeseran besar.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi bertajuk “Correct the Map” yang mendorong penggunaan proyeksi peta secara lebih akurat dalam menggambarkan luas wilayah.

Baca Juga: Dari Tablet Tanah Liat Hingga Teknologi Satelit, Begini Transformasi Panjang Sejarah Peta Dunia

Resolusi yang diprakarsai oleh Togo dan didukung penuh Uni Afrika tersebut disetujui oleh 164 negara.

Sebaliknya, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menyatakan penolakan. Pihak AS menilai resolusi koreksi peta tersebut memuat agenda ideologis (ideological agenda).

Mengganti Proyeksi Mercator ke Equal Earth

Salah satu proyeksi yang didorong kuat dalam resolusi PBB adalah Equal Earth, sebuah metode pemetaan yang diperkenalkan pada 2018.

Berbeda dengan proyeksi Mercator, Equal Earth mempertahankan perbandingan luas daratan secara presisi agar mendekati kondisi sebenarnya.

Resolusi PBB tersebut tidak melarang penuh penggunaan Mercator, melainkan mengimbau pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi internasional, hingga platform teknologi untuk mengutamakan proyeksi luas setara (equal area projection).

Penyimpangan visual pada peta Mercator yang dirancang Gerardus Mercator sejak 1569 sejatinya dibuat khusus untuk navigasi pelayaran.

Proyeksi ini mampu mempertahankan sudut dan arah mata angin.

Namun, konsekuensinya membuat ukuran wilayah di dekat kutub tampak makin membesar, sementara wilayah di dekat khatulistiwa justru mengecil.

Salah satu distorsi paling mencolok adalah perbandingan Afrika dan Greenland.

Pada peta Mercator, keduanya terlihat berukuran hampir sama. Padahal secara riil, luas Afrika mencapai 14 kali lipat dari Greenland.

Hal serupa terjadi pada wilayah khatulistiwa lain, termasuk sebagian besar Asia Tenggara.

Peta Membentuk Persepsi Publik

Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menegaskan bahaya penyajian peta yang terdistorsi secara terus-menerus.

"Ketika mereka menyajikan gambaran planet kita yang terdistorsi, risikonya adalah melanggengkan representasi yang tidak akurat dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai sesuatu yang benar," tegasnya.

Sorotan senada juga dibahas dalam tayangan edukasi digital kanal Sepulang Sekolah.

Peta dinilai bukan sekadar gambar geografis, melainkan representasi visual yang membentuk pola pikir dan psikologis masyarakat dunia terhadap suatu kawasan.

"Jadi kalau Afrika kelihatan kecil di peta, orang tuh jadi gampang ngeremehin Afrika. Padahal Afrika tuh kan benua terbesar kedua setelah Asia, tapi di mata banyak orang selalu kelihatan kecil dan insignifikan," papar konten kreator Koiyocabe dalam tayangan tersebut.

Pengadopsian proyeksi Equal Earth memang tidak mengubah bentuk fisik bumi, melainkan membenahi cara penyajian bidang datar agar visualisasi benua sesuai dengan fakta proporsi yang sebenarnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
peta equal earth mercator pbb