RADARTUBAN - Banyak orang mengira tato bersifat permanen hanya karena tinta disuntikkan ke dalam kulit. Padahal, ada peran sistem imun tubuh yang membuat pigmen tato dapat bertahan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tanpa mudah hilang.
Seni merajah tubuh atau tato telah menjadi bagian dari sejarah dan kebudayaan manusia selama ribuan tahun. Praktik ini diperkirakan sudah ada sejak zaman purba, jauh sebelum pembangunan Piramida Giza di Mesir.
Secara anatomi, agar warna tato tidak mudah terkelupas bersama sel kulit mati, tinta harus disuntikkan hingga mencapai lapisan dermis yang berada di bawah epidermis.
Ketika jarum tato menembus kulit dan memasukkan pigmen warna, tubuh secara otomatis menganggapnya sebagai benda asing yang berpotensi membahayakan.
Kondisi tersebut memicu respons pertahanan alami berupa peradangan. Pembuluh darah melebar untuk mengirimkan berbagai sel imun ke lokasi luka sehingga area yang baru ditato biasanya tampak kemerahan, bengkak, dan terasa nyeri.
"Begitu jarum nusuk dan gumpalan tinta nerobos masuk, pasukan sel imun menghubungi otak buat nyalain tanda bahaya. Pembuluh darah jalan masuk bala bantuan dibuka lebar-lebar, kulit jadi memerah, bengkak, dan perih," ujar narator dalam video YouTube Kok Bisa?.
Penjelasan tersebut menggambarkan respons awal tubuh saat menghadapi masuknya tinta ke dalam jaringan kulit.
Setelah tiba di lokasi luka, sel-sel imun bernama makrofag berusaha menelan partikel tinta yang dianggap sebagai benda asing.
Namun, ukuran dan karakteristik pigmen tato membuat material tersebut sulit dihancurkan sepenuhnya oleh sistem pertahanan tubuh.
"Merasakan pertarungan enggak akan berhasil, sel imun pun ngambil keputusan terakhir. Mereka bersatu pasang badan dan ngebungkus tinta biar enggak ngerusak organ-organ lain. Inilah yang bikin tato jadi enggak bisa hilang meski udah digosok sampai merah," jelas narator.
Kondisi tersebut membuat pigmen tinta tetap bertahan di lapisan dermis sehingga gambar tato dapat terus terlihat dalam jangka waktu yang sangat lama.
Meski bersifat permanen, warna tato tetap dapat memudar seiring berjalannya waktu. Regenerasi alami kulit dan perubahan kondisi pigmen menyebabkan sebagian tato tampak lebih pudar dibandingkan saat pertama kali dibuat.
Sebagian kecil partikel tinta juga diketahui dapat berpindah ke sistem limfatik dan mengendap di kelenjar getah bening.
Pada kondisi tertentu, bahan dasar tinta yang tidak cocok dengan tubuh dapat memicu reaksi alergi maupun munculnya benjolan pada kulit.
Untuk menghilangkan tato, prosedur medis modern umumnya memanfaatkan teknologi laser berintensitas tinggi.
Baca Juga: Khusus yang Memiliki Tato Permanen. Berikut Cara Menghilangkan
Energi laser bekerja memecah gumpalan pigmen menjadi partikel yang lebih kecil sehingga lebih mudah dibersihkan oleh sistem imun tubuh.
Prosedur ini biasanya memerlukan beberapa kali sesi terapi tergantung ukuran, warna, dan kedalaman tato.
Selain itu, tindakan penghapusan tato juga dapat menimbulkan efek samping seperti kemerahan, pembengkakan, hingga luka bakar ringan pada kulit.
Selain laser, terdapat metode bedah eksisi yang dilakukan dengan mengangkat bagian kulit yang mengandung pigmen tato.
Namun, prosedur ini umumnya meninggalkan bekas luka permanen setelah proses penyembuhan selesai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni