RADARTUBAN – Keberadaan suku-suku terasing di Papua Nugini, salah satunya Suku Witwai kembali menyita perhatian publik.
Wilayah yang dikenal sebagai salah satu daerah paling terisolasi di dunia ini menyimpan keanekaragaman tradisi serta suku lokal yang masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.
Pengalaman berinteraksi langsung dengan salah satu suku misterius di pedalaman wilayah dataran tinggi Papua Nugini dibagikan oleh seorang vlogger petualang melalui tayangan kanal YouTube IBra Traveler.
Baca Juga: Tradisi Gelang Leher Suku Kayan, Sebagai Simbol Kecantikan Sekaligus Perlindungan Diri
"Papua Nugini adalah salah satu negara di mana Anda akan menemukan ratusan suku, dan setiap suku memiliki adat istiadat, ritual, dan pakaian khusus mereka sendiri," ujar vlogger IBra Traveler dalam video penjelajahannya.
Untuk mencapai wilayah pemukiman suku-suku pedalaman tersebut, perjalanan ekstrem harus ditempuh melalui jalur darat dan hutan belantara.
Keterbatasan infrastruktur jalan serta risiko tingginya angka kejahatan jalanan oleh kelompok bersenjata tajam menjadi tantangan utama yang harus dihadapi saat menyusuri kawasan terpencil di wilayah ini.
Penjaga Air Terjun Suci dan Strategi Penyamaran
Di kawasan pedalaman hutan yang melintasi area perbukitan, terdapat kelompok masyarakat adat yang sering dijuluki sebagai "Penjaga Air Terjun" atau Suku Witwai.
Suku ini memiliki ikatan spiritual yang sangat kuat dengan alam sekitar, khususnya area air terjun yang dianggap sebagai tempat paling suci dan keramat bagi kehidupan mereka.
Secara tradisi, anggota suku ini mengenakan riasan serta kostum unik yang menyerupai tampilan mistis dan menakutkan.
Penampilan menyeramkan tersebut sengaja diciptakan sejak zaman dahulu sebagai strategi pertahanan diri.
Pada era perang antarsuku, wujud menyeramkan ini digunakan untuk menakut-nakuti musuh yang berusaha mendekati kawasan air terjun.
Selain itu, gaya busana dan tarian ritual mereka menirukan gerakan serta suara burung Cenderawasih (Bird of Paradise) yang disucikan oleh masyarakat setempat.
Setiap hari, secara bergantian para pemuda suku bersiap dan berdiri di tebing sekitar air terjun untuk memastikan kawasan suci mereka tetap bersih dari gangguan pihak luar.
Bagi kepercayaan lokal, pencemaran atau pelanggaran aturan di area air terjun diyakini dapat mendatangkan malapetaka bagi seluruh warga desa.
Tempat Ritual Penyembuhan Hingga Cari Jodoh
Tak hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, area air terjun tersebut juga dijadikan tempat pelaksanaan ritual penyembuhan, permohonan keberkahan jodoh bagi perempuan muda, hingga sarana bagi tetua adat untuk membaca tanda-tanda alam melalui kicauan burung.
Keberadaan tradisi penjagaan air terjun ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat adat pedalaman Papua Nugini terus melestarikan warisan leluhur mereka di tengah derasnya arus modernisasi dunia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari