RADARTUBAN - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini marak dimanfaatkan di berbagai bidang usaha, termasuk industri kuliner.
Namun, alih-alih menghemat anggaran pemasaran dan menarik minat pelanggan, penggunaan foto makanan hasil olahan AI yang tidak akurat justru dinilai dapat memicu rasa ketidaknyamanan bagi calon pembeli hingga merugikan citra bisnis pemilik usaha itu sendiri.
Fenomena tersebut menjadi sorotan kreator konten sekaligus praktisi pemasaran digital, Eno Bening.
Melalui video terbaru di kanal YouTube miliknya, Eno membagikan pengalamannya saat menemukan restoran dan tempat makan yang memasang foto produk kuliner hasil generate AI berskala besar pada papan menu maupun materi promosi mereka.
Menurut Eno, visual makanan hasil rekaan AI yang buruk (AI slop) kerap memunculkan anomali bentuk yang tidak masuk akal, seperti tekstur hidangan yang aneh hingga tampilan taburan bumbu yang berlebihan dan mengganggu estetika visual.
"Gua pikir gambar-gambar AI makanan ini cuma ada di internet buat lelucon atau candaan. Tapi ternyata ini beneran digenerate dan dijadikan produk akhir buat mempromosikan dagangan mereka. Bukannya mau makan, gua malah mau kabur. Ini bukannya bikin usaha untung, malah buntung karena bikin geli," ujar Eno Bening dalam unggahan videonya.
Ia menambahkan bahwa tampilan visual yang terlalu tidak natural dapat memicu respons negatif secara psikologis dari calon konsumen.
Hal ini dapat memicu rasa geli hingga trypophobia akibat pola atau tekstur aneh pada hasil rendisi gambar AI tersebut.
Tentu kontraproduktif bagi usaha kuliner, di mana daya tarik utama pemasaran terletak pada tampilan hidangan yang mampu membangkitkan selera makan.
Di tengah maraknya fenomena "latah AI", Eno mengimbau para pemilik usaha maupun pelaku UMKM untuk lebih bijak dalam memilih materi komunikasi visual.
Menurutnya, keterbatasan anggaran promosi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kualitas dan kurasi estetika tampilan produk.
"Dari perspektif pemasaran, ini bukan materi promosi yang bagus. Kalau punya keterbatasan anggaran, mengambil foto langsung menggunakan kamera ponsel pintar dari hasil masakan juru masak sendiri justru jauh lebih baik, efisien, dan merepresentasikan makanan secara jujur ketimbang memaksa memakai gambar AI yang prom-nya buruk," tegasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi para pengusaha kuliner bahwa teknologi AI merupakan alat bantu yang tetap membutuhkan pengawasan dan standar estetika manusia.
Tanpa adanya kontrol kualitas pada materi promosi, upaya efisiensi berisiko menurunkan rasa percaya calon pelanggan terhadap kualitas makanan asli yang disajikan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni