RADARTUBAN – Dikenal luas sebagai "Gipsi Laut" atau Sea Nomads, masyarakat Suku Bajau memiliki kemampuan fisik luar biasa yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Komunitas pesisir tangguh yang bermukim dan tersebar di kawasan perairan Indonesia, Filipina, hingga Malaysia ini memiliki ketahanan menyelam yang mengagumkan.
Mereka sanggup menyelam serta bertahan di dalam kedalaman air hingga belasan menit tanpa menggunakan alat bantu pernapasan tabung oksigen modern.
Baca Juga: Mengenal Suku Witwai di Papua Nugini, Sang Penjaga Air Terjun Berpenampilan Mistis
Melalui dokumentasi perjalanan eksplorasi mendalam yang diunggah oleh vlogger kenamaan Joe HaTTab melalui saluran YouTube pribadinya, potret kehidupan unik serta rahasia ketahanan fisik Suku Bajau diungkap secara langsung.
Vlogger tersebut mendatangi pemukiman terapung komunitas pesisir ini yang terisolasi, mulai dari kepulauan di Filipina hingga kawasan perairan pesisir Sulawesi, Indonesia.
Terbiasa Menyelami Lautan
Suku Bajau membangun tempat tinggal di atas tiang-tiang kayu panggung dan menggantungkan seluruh rangkaian aktivitas harian mereka di atas permukaan air laut.
Sejak usia yang sangat dini, anak-anak Suku Bajau telah terbiasa berlatih berenang serta menyelam di lautan lepas.
Tradisi ini menjadikan lingkungan samudera sebagai rumah utama sekaligus sumber mata pencaharian pokok bagi keberlangsungan hidup mereka.
"Suku Bajau tidak bisa hidup tanpa laut. Bagi kami, laut adalah tempat untuk mencari penghidupan dan satu-satunya kehidupan yang kami miliki," ujar salah satu warga lokal dalam dokumentasi tersebut.
Mutasi Genetik dan Organ Limpa Lebih Besar
Kemampuan fisik luar biasa Suku Bajau saat berburu di dasar laut kerap membuat para peneliti dunia berdecak kagum.
Tanpa perlengkapan selam canggih, para penyelam tradisional ini mampu menyelam hingga kedalaman puluhan meter demi memburu ikan serta biota laut hanya dengan mengandalkan kacamata kayu buatan sendiri dan panah tradisional.
Sejumlah penelitian ilmiah internasional bahkan mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa organ limpa masyarakat Suku Bajau secara genetis berukuran jauh lebih besar ketimbang manusia pada umumnya.
Adaptasi fisiologis yang unik ini memungkinkan tubuh mereka menyimpan cadangan sel darah merah kaya oksigen jauh lebih banyak saat sedang menahan napas di bawah air.
Meski derasnya arus modernisasi dan perubahan kondisi lingkungan terus mengancam kelangsungan pola hidup tradisional, masyarakat Suku Bajau hingga kini tetap teguh memegang kearifan lokal serta keterikatan mendalam mereka dengan wilayah lautan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari