RADARTUBAN — Selama puluhan tahun, masyarakat global hidup dalam ilusi bahwa setiap botol atau kemasan plastik yang dibuang ke tempat sampah khusus akan diproses kembali menjadi barang baru yang ramah lingkungan.
Namun, berbagai riset dan investigasi membongkar fakta bahwa sistem daur ulang plastik global pada dasarnya merupakan salah satu bentuk manipulasi industri terbesar yang memindahkan beban kesalahan ke tangan konsumen.
Secara teknis, daur ulang plastik jauh berbeda dengan daur ulang material seperti aluminium atau kaca yang dapat dilebur berulang kali tanpa mengurangi kualitasnya.
Ribuan jenis plastik yang beredar di pasaran memiliki titik leleh serta sifat kimia yang berbeda-beda, sehingga tidak dapat dicampur secara sembarangan.
Baca Juga: Bakar Sampah Diduga Picu Kebakaran Bangunan Warga Bancar Tuban
Ditambah lagi, kualitas rantai polimer plastik selalu menurun (downcycling) setiap kali diproses ulang.
Data menunjukkan bahwa dari seluruh total sampah plastik yang pernah diproduksi di dunia, hanya sekitar 10 persen yang berhasil didaur ulang sekali, dan kurang dari 1 persen yang dapat didaur ulang untuk kedua kalinya.
salah satu bentuk manipulasi paling nyata teletak pada penggunaan simbol segitiga panah berputar (Resin Identification Code) yang hampir selalu ada pada setiap kemasan plastik.
Kode tersebut kerap disalahartikan oleh publik sebagai jaminan bahwa produk tersebut pasti dapat didaur ulang, padahal simbol itu hanya berfungsi mengidentifikasi jenis bahan baku atau resin semata.
"Waktu kalian lihat logo daur ulang, otak otomatis merasa aman. Padahal untuk plastik jenis tertentu, biayanya jauh lebih mahal dibanding nilai jualnya dan hampir tidak ada pasarnya," ucap narator melalui kanal YouTube Calon Sarjana.
Dampak dari kegagalan sistem global ini dirasakan langsung oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Setelah Tiongkok menghentikan secara total kebijakan impor sampah asing melalui aturan National Sword pada tahun 2018, jutaan ton sampah plastik dari negara maju beralih masuk ke perairan Asia Tenggara.
Berdasarkan data BPS tahun 2024, volume impor sampah plastik Indonesia sempat menembus angka lebih dari 260 ribu ton.
Di tingkat tapak, tumpukan sampah plastik impor yang terkontaminasi kerap berakhir di pemukiman warga, salah satunya di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur.
Di desa tersebut, puluhan industri tahu rumahan memanfaatkan sampah plastik impor sebagai bahan bakar utama pembakaran tungku karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan kayu bakar.
Pembakaran plastik secara terbuka ini melepaskan senyawa berbahaya berupa dioksin yang mencemari udara, produk pangan lokal, hingga mengancam kesehatan masyarakat sekitar.
Kondisi ini menegaskan bahwa solusi atas krisis lingkungan saat ini bukanlah bertumpu pada daur ulang (recycle), melainkan pengutamaan pada langkah pengurangan (reduce) serta penggunaan kembali (reuse) guna menghentikan laju produksi plastik sekali pakai sejak dari hulu.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni