RADARTUBAN - Kemampuan hutan dunia dalam menyerap karbon dioksida menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hutan selama ini berperan penting dalam menyimpan karbon dan membantu memperlambat laju pemanasan global.
Pohon menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis, kemudian menyimpannya di batang, akar, serta jaringan tanaman.
Baca Juga: Gua Son Doong Mampu Tampung Gedung 40 Lantai, Miliki Hutan Purba dan Awan Sendiri di Bawah Tanah
Dalam beberapa dekade, hutan menjadi salah satu penyimpan karbon alami terbesar di bumi.
Namun, perubahan kondisi iklim mulai mengganggu kemampuan tersebut.
Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, sepanjang 2023 kemampuan hutan dunia dalam menyerap karbon disebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Nah tapi di sinilah masalahnya muncul karena sepanjang tahun 2023 kalau di total-total hampir enggak ada gas karbon yang diserap hutan. Iya entah gara-gara apa pohon-pohon ini seakan jadi gak bisa nyimpan karbon lagi," bunyi narasi dalam video tersebut.
Suhu Panas Membuat Pohon Kurangi Penyerapan
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemampuan pohon menyerap karbon adalah meningkatnya suhu dan kejadian panas ekstrem.
Ketika menghadapi suhu yang terlalu tinggi, pohon dapat menutup stomata atau pori-pori kecil pada permukaan daun.
Mekanisme tersebut merupakan cara tanaman mengurangi kehilangan air.
Masalahnya, stomata juga menjadi jalur masuk karbon dioksida yang diperlukan dalam proses fotosintesis.
Ketika stomata tertutup, jumlah karbon dioksida yang masuk ke daun ikut berkurang.
"Soalnya panas ekstrem bikin banyak pohon nutup pori-pori di daun biar air enggak hilang. Tapi masalahnya pori-pori ini juga tempat karbon diserap. Kalau ketutup karbon jadi gak kesedot," jelas narator.
Selain suhu ekstrem, kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan turut memberikan tekanan terhadap ekosistem hutan.
Pohon yang mati akibat kekeringan atau terbakar dapat melepaskan kembali sebagian karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa dan tanah ke atmosfer.
Kondisi tersebut membuat fungsi hutan sebagai penyerap karbon semakin terganggu.
Situasi ini juga menciptakan persoalan yang saling berkaitan.
Pemanasan dapat menekan kemampuan hutan menyerap karbon, sementara berkurangnya penyerapan karbon membuat lebih banyak karbon dioksida bertahan di atmosfer.
Menanam Pohon Saja Tidak Cukup
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penghijauan tetap penting, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya strategi untuk menghadapi perubahan iklim.
Upaya menjaga hutan perlu berjalan bersamaan dengan pengurangan emisi dari sumber utamanya, termasuk penggunaan bahan bakar fosil dan aktivitas industri.
Narator dalam pembahasan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga hutan yang sudah ada, bukan hanya mengandalkan penanaman pohon baru.
"Jadi enggak cuman nyerapin gas yang ada pakai pohon tapi benar-benar dikurangin dari awal. Terus pohon yang ada juga mesti kita jaga bukannya malah kita babat lagi," tegasnya.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan alam dalam menghadapi perubahan iklim memiliki batas.
Ketika suhu terus meningkat, kekeringan dan kebakaran semakin sering terjadi, serta kerusakan hutan berlanjut, fungsi hutan sebagai salah satu penyerap karbon alami dapat semakin tertekan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari