RADARTUBAN - Keputusan strategis industri hiburan yang keliru sering kali menjadi keuntungan besar bagi pihak pesaing.
Stasiun televisi anak Nickelodeon pernah melewatkan potensi keuntungan senilai miliaran dolar setelah menolak mentah-mentah berkas tumpukan konsep kartun karya seorang mahasiswa.
Proyek animasi yang dinilai tidak memiliki masa depan tersebut justru diambil oleh pesaing utamanya, Cartoon Network, hingga berkembang menjadi fenomena pop kultur global yang kini dikenal sebagai The Powerpuff Girls.
Sejarah dan perjalanan terbentuknya serial animasi legendaris ini diulas secara mendalam oleh kanal YouTube Biar Pada Tahu!
Dalam tayangan tersebut, dibeberkan secara terperinci bagaimana konsep yang berawal dari coretan sederhana di bangku perkuliahan bisa bertransformasi menjadi tayangan ikonik pendorong kesuksesan Cartoon Network.
Baca Juga: Wujudkan Imajinasi ke Dunia Nyata, Tangled Live-Action Hadirkan Menara Rapunzel Sungguhan
"Nickelodeon pernah buang potensi cuan miliaran dolar cuma gara-gara nolak tumpukan kertas gambar dari anak kuliahan. Kartun yang waktu itu mereka anggap enggak ada potensinya sama sekali justru dipungut kompetitornya, Cartoon Network, dan viral di seluruh dunia," dikutip kanal Biar Pada Tahu! saat membuka ulasan sejarah serial animasi tersebut.
Gagasan The Powerpuff Girls_ pertama kali lahir pada awal dekade 1990-an di California Institute of the Arts (CalArts) dari tangan Craig McCracken.
Saat mencari ide untuk tugas akhir film pendeknya, McCracken mengingat coretan tiga anak perempuan bermata besar tanpa jari dan hidung yang pernah ia buat pada kartu ulang tahun saudaranya di tahun 1991.
Ia menilai perpaduan antara tampilan anak TK yang imut dengan kekuatan super dahsyat untuk melawan monster raksasa menyajikan konsep segar yang kontras.
Pada versi awalnya di tahun 1992, film pendek tersebut diberi judul Whoopass Stew! The Whoopass Girls in A Sticky Situation, di mana sumber kekuatan mereka berasal dari kaleng sungguhan bertuliskan "A Can of Whoopass".
Setelah karya akademik tersebut mendapatkan apresiasi positif dalam berbagai festival animasi independen, dosen pembimbing McCracken menyarankan agar konsep itu dipresentasikan kepada eksekutif televisi, dengan sasaran utama Nickelodeon.
Kala itu, McCracken melakukan presentasi langsung di depan petinggi divisi pengembangan animasi Nickelodeon, Linda Simenski.
Walau gaya visualnya disukai, Nickelodeon resmi menolak proyek tersebut karena fokus demografi mereka saat itu terkunci pada komedi realistis seperti Rugrats atau komedi absurd seperti The Ren & Stimpy Show.
Aksi tiga bocah perempuan yang bertarung melawan monster dianggap tidak selaras dengan arah tontonan saluran tersebut.
Penolakan dari Nickelodeon justru menjadi titik balik keberhasilan McCracken. Saat bekerja di studio Hanna-Barbera sebagai penata artistik, ia bertemu dengan Fred Seibert yang sedang menjalankan eksperimen kebebasan kreasi bertajuk What a Cartoon!
Seibert melihat potensi besar dari film pendek Whoopass Girls dan langsung memberi lampu hijau untuk dikembangkan menjadi episode pilot di Cartoon Network.
Baca Juga: Pendidikan Bukan Cuma Mengejar Gelar, Pandji Pragiwaksono Soroti Kompetensi dan Ruang Tumbuh Anak
Karena aturan sensor tayangan anak melarang penggunaan kata whoopass, nama serial pun diubah menjadi The Powerpuff Girls dengan karakter Blossom, Bubbles, dan Buttercup, serta elemen kaleng digantikan oleh cairan misterius Chemical X.
Serial yang resmi mengudara penuh pada November 1998 ini langsung meledak dan sukses menyabet dua penghargaan Emmy Awards.
Dari sisi bisnis, franchise ini tercatat telah menghasilkan pendapatan retail lebih dari 2,5 miliar dolar AS. Keputusan Nickelodeon yang sempat menolaknya kini dikenang sebagai salah satu kesalahan pembacaan potensi konten terbesar dalam sejarah industri animasi televisi.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni