RADARTUBAN — Ketertarikan hewan terhadap makanan manusia sering memunculkan anggapan bahwa masakan manusia memiliki rasa yang lebih lezat dibandingkan makanan alami mereka.
Padahal, para ilmuwan menjelaskan bahwa daya tarik tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, aroma, serta kandungan nutrisi daripada soal rasa yang dianggap lebih enak.
Fenomena ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari anjing yang mengincar burger milik pemiliknya, kucing yang tertarik pada es krim, hingga satwa liar yang mengais sisa makanan di tempat sampah.
Menurut para peneliti, setiap spesies memiliki sistem pengecap yang berkembang berbeda sesuai kebutuhan bertahan hidup selama proses evolusi.
Baca Juga: Minta Hujan, Ratusan Santri Ash Shomadiyah Salat Istisqa Sambil Bawa Hewan
Pada dasarnya, mamalia dan sebagian besar vertebrata memiliki indra pengecap yang mampu mengenali berbagai molekul kimia dalam makanan.
Sistem ini membantu hewan membedakan rasa manis, asin, asam, pahit, dan gurih (umami). Namun, kemampuan tersebut tidak selalu sama pada setiap spesies.
Salah satu contoh paling jelas terlihat pada kucing. Sebagai karnivora obligat, leluhur kucing tidak bergantung pada gula atau karbohidrat sebagai sumber energi utama. Akibatnya, gen reseptor rasa manis yang dikenal sebagai TAS1R2 kehilangan fungsinya selama proses evolusi.
Karena itu, ketika kucing tampak menikmati es krim atau makanan manis lainnya, mereka sebenarnya tidak merasakan sensasi manis seperti manusia.
Ketertarikan tersebut lebih disebabkan oleh aroma, tekstur, serta kandungan lemak dan protein yang terdapat di dalam makanan.
Sementara itu, anjing memiliki kemampuan mengecap yang lebih mirip dengan manusia. Mereka masih dapat mendeteksi rasa manis, meskipun indra penciuman tetap menjadi faktor utama dalam menentukan ketertarikan terhadap makanan.
Fungsi indra pengecap pada hewan ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan apakah suatu makanan terasa enak atau tidak.
Sistem tersebut berkembang selama jutaan tahun untuk membantu hewan mengenali sumber nutrisi sekaligus menghindari zat berbahaya.
"Indra pengecap tidak ada semata-mata untuk membuat makanan terasa nikmat, melainkan membantu hewan mengenali zat yang bermanfaat dan menghindari zat yang berbahaya," ujar narator kanal YouTube Past Tense.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengecap pada hewan pada dasarnya merupakan mekanisme bertahan hidup.
Rasa manis menjadi petunjuk adanya sumber energi, rasa gurih menandakan keberadaan asam amino, rasa asin menunjukkan mineral penting, sedangkan rasa pahit berfungsi sebagai peringatan terhadap kemungkinan zat beracun.
Ketertarikan satwa terhadap makanan manusia semakin meningkat sejak manusia membangun permukiman dan menghasilkan limbah makanan dalam jumlah besar.
Baca Juga: Pasar Hewan Tuban Direhabilitasi Rp 390 Juta, Begini Kata Pemkab Terkait Nasib Pedagang
Berbeda dengan kondisi di alam liar yang mengharuskan hewan menghabiskan banyak energi untuk mencari makan, lingkungan manusia menyediakan sumber kalori yang jauh lebih mudah diperoleh.
Aroma makanan manusia yang kuat sering kali menjadi petunjuk adanya sumber energi bernilai tinggi bagi satwa liar. Kondisi ini membuat banyak hewan tertarik mendatangi tempat sampah atau kawasan permukiman manusia.
"Seekor beruang tidak perlu memahami apa itu piza untuk mengenali lemak, karbohidrat, protein, dan aroma kuat yang berasal dari tempat sampah," ujar narator.
Menurut kanal YouTube Past Tense, beruang tidak perlu memahami konsep makanan manusia untuk mengenali kandungan nutrisi bernilai tinggi yang tercium dari aromanya.
Kemampuan tersebut membuat satwa dapat menemukan sumber kalori besar dengan usaha yang jauh lebih sedikit dibandingkan saat mencari makan di alam liar.
Pengalaman berulang dalam menemukan makanan berkalori tinggi di sekitar permukiman akhirnya dapat mengubah perilaku satwa liar.
Beberapa hewan menjadi lebih sering mendatangi kawasan yang dihuni manusia karena menganggap lokasi tersebut sebagai sumber makanan yang mudah diakses.
Dengan demikian, makanan manusia tidak selalu terasa lebih lezat bagi hewan dibandingkan makanan alami mereka.
Daya tarik utama justru berasal dari aroma yang kuat, kandungan kalori yang tinggi, serta kemampuan sistem biologis hewan dalam mengenali sumber nutrisi yang menguntungkan bagi kelangsungan hidupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni