Marilyn Manson hingga Lil Nas X Dikaitkan dengan Satanisme, Ini Fakta di Baliknya

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 15:33 WIB
Ilustrasi musisi yang menampilkan warna merah hitam seperti penganut satanisme. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi musisi yang menampilkan warna merah hitam seperti penganut satanisme. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Penggunaan simbol, lirik, hingga penampilan kontroversial membuat sejumlah musisi dunia kerap dikaitkan dengan satanisme. 

Namun, keberadaan simbol tertentu dalam karya musik tidak serta-merta membuktikan bahwa seorang musisi menganut atau menjalankan praktik satanisme.

Hal tersebut dibahas Aurel Val melalui kanal YouTube pribadinya dalam video yang mengulas teori konspirasi mengenai satanisme di kalangan musisi. 

Baca Juga: Kontroversi MV Fallen Angel Jennie BLACKPINK, Murni Seni atau Satanisme?

Dia menjelaskan bahwa anggapan tersebut berkembang ketika publik menghubungkan simbol tertentu dengan pemujaan terhadap setan.

“Kalau kita bahas soal konspirasi, pasti enggak akan ada habisnya,” ujar Aurel Val.

Ragam Pemahaman Satanisme

Menurut Aurel, satanisme sendiri tidak memiliki satu pemahaman tunggal. 

Dia menyebut terdapat sejumlah aliran dengan pandangan berbeda mengenai Satan dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya.

Theistic Satanism, misalnya, memandang Satan sebagai entitas spiritual. 

Sementara LaVeyan Satanism yang dikaitkan dengan Anton LaVey tidak memandang Satan sebagai sosok literal dan lebih menjadikannya sebagai simbol kebebasan individu.

Ada pula Luciferianism yang mengaitkan sosok Lucifer dengan gagasan mengenai pencerahan, pengetahuan, dan kemandirian.

Marilyn Manson hingga Lil Nas X

Salah satu musisi yang dibahas adalah Marilyn Manson.

Dia selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kontroversi karena penggunaan simbol seperti salib terbalik, pentagram, serta tema Antichrist dalam karya dan penampilannya.

Manson juga diketahui memiliki hubungan dengan Anton LaVey, pendiri Church of Satan. 

Namun, penggunaan simbol tertentu tetap perlu dilihat berdasarkan konteks dan tujuan penggunaannya, bukan semata-mata dijadikan bukti atas sebuah tudingan.

Aurel juga menyinggung sejarah salib terbalik. 

Simbol tersebut tidak secara eksklusif berkaitan dengan satanisme karena sebelumnya dikenal dalam tradisi Kristen sebagai simbol yang dikaitkan dengan Santo Petrus.

Kontroversi serupa muncul pada Lil Nas X melalui video musik Montero (Call Me by Your Name). 

Video tersebut menampilkan gambaran neraka dan sosok iblis yang kemudian memicu tudingan satanisme di ruang publik.

Kontroversi semakin besar setelah peluncuran Satan Shoes yang menggunakan citra dan simbol berkaitan dengan Satan. 

Peristiwa tersebut membuat nama Lil Nas X kembali menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai simbol satanisme di industri musik.

Ada yang Terang-terangan Mengaku

Di sisi lain, Aurel membahas Gorgoroth, band black metal asal Norwegia. 

Berbeda dari sekadar musisi yang dikaitkan dengan satanisme karena penggunaan simbol, sejumlah anggota band tersebut secara terbuka menyatakan keterkaitan dengan satanisme sebagai bagian dari identitas dan filosofi musik mereka.

Menurut Aurel, perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya melihat konteks ketika membahas hubungan seorang musisi dengan satanisme. 

Simbol yang sama dapat memiliki makna berbeda tergantung latar belakang penggunaan dan konteks budaya.

“Apakah simbol-simbol itu memang melambangkan satanisme? Kalau kita lihat dari awal mula penggunaannya, belum tentu juga,” jelasnya.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa simbol dalam musik memiliki sejarah dan makna yang beragam. 

Karena itu, kemunculan simbol tertentu tidak cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa seorang musisi menganut satanisme.

Sementara itu, klaim mengenai keterkaitan seorang musisi dengan satanisme perlu dibedakan antara fakta yang dapat diverifikasi, pernyataan langsung dari musisi, interpretasi terhadap karya, serta teori atau spekulasi yang berkembang di masyarakat. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
musisi teori konspirasi satanisme industri musik